Ajaran-Ajaran Utama/ Kepercayaan Gerakan Zaman Baru – (seri 14)

 

Alice Ann Bailey sebagai pendiri Gerakan Zaman Baru tampaknya sangat terobsesi dan mengagumi falsafah dan agama-agama Timur sehingga didalam tulisan-tulisannya banyak sekali ia menunjuk kekagumannya kepada benua Asia. Dia katakan bahwa Asia dan hanya Asia-lah tempat di muka bumi ini yang mampu memunculkan tokoh-tokoh luar biasa yang hingga pada masa kini menjadi objek penghormatan di seluruh dunia, diantara tokoh-tokoh agama Timur itu adalah Lao Tze, Konfusius, Budha, Shri Krishna dan Kristus.[1]

Dia sendiri menulis atau mungkin lebih tepatnya menterjemahkan isi pikiran dari seorang Guru/ Master Spiritual asal Tibet bernama Djwhal Khul dan kemudian menuliskannya kedalam buku-buku tersebut.  Sang Guru menjelaskan berbagai masalah gaib kepadanya, menjelaskan berbagai tingkatan para murid didalam ajaran GZB, menentukan kenaikan tingkatan mereka, dan mengawasi segala praktek-praktek meditasi yang dilakukan oleh para pengikut. Sang Guru pada pandangan mereka adalah jalan untuk menuju kepada tingkatan ketuhanan yang merupakan akhir dari perjalanan spiritual mereka.

Melihat berbagai hal diatas, tidaklah mengherankan bila kita dapati bahwa seluruh ajaran-ajaran didalam Gerakan Zaman Baru sesungguhnya merupakan jiplakan dari ajaran-ajaran agama Timur, seperti agama Buddha, Hindu, falsafah Taoisme, Konfusianisme, dan bahkan Kristen, yang sudah ditafsirkan menurut pemahamannya sendiri.

Didalam GZB sendiri, para pengikut akan menjalani lima tahapan seleksi yang harus dilalui mereka dengan susah payah, terutama melalui meditasi, yang akan diawasi oleh sang guru spiritual. Sang guru spiritual bertanggung jawab memformulasikan dan menjelaskan ataupun mencegah dan menghentikan para pengikut didalam perjalanan spiritual mereka ini. Menurut mereka, meskipun meditasi dan latihan pernafasan bisa dilakukan semua orang, namun prakteknya sungguh berbahaya bila tidak diawasi oleh seorang guru spiritual, karena bisa menyebabkan kegilaan dan gangguan kejiwaan lainnya. Dalam hal ini, sang guru tidak lain bagaikan seorang dokter yang memberi resep kepada pasiennya tentang berapa dosis yang harus diambil.

Puncak dari pengelanaan seorang murid ini adalah pencapaian tingkatan tertinggi yang memang dicitakan oleh semua pengikut. Ungkapan-ungkapan berikut ini[2], dipandang oleh pengusung GZB sebagai ungkapan-ungkapan yang menggambarkan dengan jelas tingkatan akhir dari pengelanaan spiritual si murid tersebut.

“ Saya berdiri diantara Surga dan Bumi! Saya melihat Tuhan;

Saya melihat bentuk-bentuk yang digunakan Tuhan.

Saya membenci mereka semuanya.

Mereka tidak berarti bagi saya, karena yang satu tidak dapat saya capai,

sedangkan yang dua lainnya tidak lagi saya cintai.”

 

“Begitu banyaknya suara berkata dan menghentikan saya didalam perjalanan saya.

Gelegar suara dari bumi mematikan suara Tuhan.

Saya kembali pada jalan saya ke depan,

dan melihat kembali kesukaan yang telah lama disimpan akan bumi,

dan jasad dan keluarga.

Saya kehilangan penglihatan akan hal-hal yang abadi.

Suara Tuhan telah sirna.”

 

“Suara Tuhan terdengar jelas,

dan didalam bunyinya,

suara-suara kecil dari bentuk-bentuk yang kecil menjadi kabur dan sirna.

Saya menyelam didalam dunia kesatuan.

Saya tahu bahwa seluruh jiwa adalah satu. “

 

“Tersapukah saya oleh Kehidupan semesta

dan ketika Saya melangkah diatas jalan saya ke depan – jalan Ketuhanan –

Saya melihat seluruh energi yang lebih lemah sirna.

Saya adalah Yang Tunggal; Saya, Tuhan.

Saya adalah bentuk dimana seluruh bentuk-bentuk melebur.

Saya adalah jiwa dimana seluruh jiwa-jiwa melebur.

Saya adalah Kehidupan itu,

dan didalam Kehidupan itu,

seluruh kehidupan-kehidupan yang lebih kecil bertahan.”[3]

Ungkapan-ungkapan diatas yang penulis kutip dari buku karangan Alice Bailey dengan jelas menyimpan makna kekafiran atau kesesatan yang tampaknya merupakan ungkapan keputusasaan seseorang. Dari berbagai ungkapan-ungkapan diatas, kita bisa mensarikan sejumlah ajaran-ajaran utama yang umumnya dianut bersama oleh kelompok-kelompok yang ada didalam Gerakan Zaman Baru ini.

Pertama, para pengikut GZB memiliki tiga kepercayaan yang saling terkait sebagai warisan dari para penyembah berhala, yakni kepercayaan akan monisme (segalanya adalah satu), kepercayaan akan pantheisme (segalanya adalah tuhan), dan (manusia adalah tuhan).

Kepercayaan akan monisme akan mengimplikasikan bahwa segala sesuatu, baik itu makhluk hidup ataupun materi bahkan tuhan, di alam semesta ini adalah satu kesatuan yang tidak terpisahkan yang saling bergantungan satu sama lainnya. Perbedaan bentuk dan rupa tidaklah hakiki (real) melainkan hanya tampilan luar atau zahirnya saja karena sesungguhnya semuanya berkaitan satu sama lain atau menyatu dalam zatnya. Manusia, hewan, bumi, mineral, planet, tuhan, dan lain sebagainya adalah satu kesatuan yang bersatu. Kepercayaan ini secara logis akan membawa pada kepercayaan pantheisme yaitu kepercayaan bahwa “segalanya adalah tuhan”, karena segala sesuatu yang berpadu tentulah zatnya dan sifatnya pun berpadu, maka masing-masing bagian berbagi sifat dan zat yang sama, maka semuanya adalah tuhan.[4] Baik benda mati ataupun makhluk hidup semuanya memiliki sifat ketuhanan. Apabila ini yang menjadi dasar keyakinan mereka para pengikut GZB semenjak awal, maka kepercayaan ini pada akhirnya akan membawa pada kepercayan bahwa ‘manusia adalah tuhan’ karena manusia bersatu dengan tuhan tersebut sehingga zat dan sifat ketuhanan mengalir didalam diri manusia tersebut. Mengapa manusia tidak pernah merasa menjadi tuhan, menurut ideolog GZB adalah karena manusia lengah dan lalai akan sifat ketuhanan yang terdapat dalam dirinya, maka dari itu mereka pengusung GZB mempropagandakan berbagai pelatihan, meditasi ataupun sarana-sarana lainnya guna membuat para pengikutnya menyadari akan sifat ketuhanan mereka dan bahkan mencapai tingkatan ketuhanan di akhir perjalanan spiritual mereka. Perubahan tingkatan menuju pada ketuhanan ini tidaklah berarti mengubah wujud manusia atau kemampuan fisiknya secara serta-merta menjadi seakan tokoh ‘superman’ didalam kartun-kartun fiksi Amerika, melainkan hanya menyentuh aspek kesadaran manusia, jadi berbagai pelatihan, meditasi, perantaraan arwah, penyembuhan dan lain sebagainya ini sesungguhnya hanyalah ditujukan untuk merubah persepsi manusia tentang dirinya, yang sebelumnya memandang bahwa dirinya adalah manusia yang lemah tidak berdaya dan terikat dengan ketetapan-ketetapan ilahi menjadi seseorang yang memandang dirinya sebagai tuhan itu sendiri yang memiliki potensi tanpa batas. Setelah mendengar ini tidaklah mengherankan bagi kita mengapa GZB memfokuskan berbagai aktivitas mereka dalam bidang pengembangan kemampuan/ potensi manusia, tidak hanya sebatas pengembangan optimal kemampuan manusia biasa melainkan pengkarbitan manusia menjadi tuhan.

Kedua, para penganut Gerakan Zaman Baru mempercayai reinkarnasi atau tumibal lahir, yakni kepercayaan bahwa makhluk hidup akan lahir dan mati terus-menerus secara berulang kali tanpa mengenal batasan. Makhluk hidup yang berbuat kebajikan semasa kehidupannya yang sekarang akan memperoleh reinkarnasi dalam wujud makhluk yang lebih mulia didalam kehidupannya yang akan datang, sedangkan makhluk hidup yang berbuat kejahatan didalam kehidupannya yang sekarang akan beroleh karma yang buruk dengan mendapatkan reinkarnasi sebagai makhluk yang lebih hina didalam kehidupannya yang akan datang. Siklus reinkarnasi atau tumibal lahir ini tidak akan berhenti hingga seorang makhluk melepaskan dunia dan mencapai derajat ketuhanan. Sesungguhnya gagasan reinkarnasi ini adalah gagasan dari agama-agama Timur seperti Hindu, Buddha, Taoisme, dan seterusnya, namun tampaknya GZB mengadopsinya pula dan menjadikannya sebagai salah satu unsur kepercayaan yang mereka pegang dan mereka propagandakan.

Terakhir, adalah paham sinkretisme agama serta inklusivitas dimana mereka para penganut GZB menggabungkan berbagai macam kepercayaan-kepercayaan yang berasal dari berbagai agama yang berbeda dan mengadopsinya sebagai kepercayaan-kepercayaan didalam Gerakan Zaman Baru, tidak salah bila kita menyatakan bahwa GZB adalah ‘adonan’ agama-agama atau ‘gado-gado’ dari agama-agama. Lebih jauh, mereka meyakini bahwa keyakinan apapun yang diyakini oleh para penganut GZB tidaklah masalah, yang terpenting adalah mereka meyakini inti ajaran GZB yaitu bahwa didalam diri manusia terdapat sifat ketuhanan yang harus dibangkitkan. Inilah bukti dari inklusivitas yang dianut oleh GZB.


[1] Education in the New Age, lihat Bab Tiga, Sub-bab: Periode Transisi Saat Ini.

[2] Ungkapan-ungkapan ini, menurut Alice Bailey, diambil dari ungkapan kaum Atlantis yang telah punah.

[3] Discipleship in the New Age, vol. I, lihat Bagian tentang The Six Stages of Discipleship. Sub-bagian: Discipleship and its End.

[4]  Maha Suci Allah dari berbagai kepercayaan khayal yang semu ini. Kita berlindung kepada Allah SWT dari kesesatan dan kekafiran perkataan ini.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *