Antara Nilai Kemanusiaan dan Keislaman: Kewajiban Moril Indonesia dan rakyat Indonesia Terhadap Etnis Muslim Rohingya

Perkembangan terbaru dampak konflik etnis di Myanmar sungguh memprihatinkan, ribuan pengungsi yang mencoba mencapai Malaysia kini terombang-ambing di perairan Aceh. Kabar terakhir Perdana Menteri Turki Ahmet Davutoglu telah mengirimkan sebuah kapal Angkatan Laut Turki bekerjasama dengan Organisasi Internasional Migrant untuk membantu ribuan pengungsi Rohingya dan Bangladesh tersebut.

 

Sejarah konflik Rohingya ini sendiri berakar sejak tahun 1947 dimana muncul gerakan-gerakan Jihad yang beraspirasi memisahkan kawasan Arakan dari bagian Barat Burma dan bersatu dengan Pakistan Timur (sekarang Bangladesh). Upaya ini menemui kegagalan. Pada tahun 1971, upaya membebaskan kawasan Arakan muncul kembali dibawah negara baru Bangladesh. Perlakuan pemerintah Burma sendiri terhadap para etnis Rohingya di Arakan sangatlah diskriminatif. Perlakuan ini mungkin dapat dibandingkan dengan era Apartheid di Afrika selatan, namun dalam konteks Burma adalah etnis Rohingya Muslim yang secara sistematis memperoleh perlakuan diskriminatif ini.

 

Bagai bara dalam sekam, konflik ini mencuat kembali pada tahun 2012 antara etnis Rakhine Buddhis dan Rohingya Muslim pada bagian utara negara bagian Rakhine, Myanmar. Salah satu faktor timbulnya kerusuhan etnis ini adalah tersebarnya isu bahwa etnis Rakhine Buddhis semakin terancam dan tidak lama lagi akan menjadi minoritas di tanah mereka. Isu yang menyebar cepat ditambah dengan kabar perkosaan wanita Rakhine oleh Muslim Rohingya dan dibalas dengan pembunuhan terhadap sepuluh Muslim Rohingya oleh kelompok Buddhis membakar konflik antar etnis di kawasan ini. Dibawah pemerintahan Thein Sein yang  seorang mantan militer, tampaknya perlakuan diskriminatif terhadap Rohingya tidak berubah. Etnis ini mengalami penyiksaan dan penangkapan oleh pasukan militer yang sewenang-wenang. Sein bahkan mengusulkan kepada Komisi Pengungsi PBB agar etnis ini diusir keluar Burma.

 

Kasus diskriminasi dan apartheidisme negeri Myanmar ini memperlihatkan secara jelas kegagalan nasionalisme yang dijalankan oleh negara Budhis ini. Sebuah negeri yang seharusnya membangun satu komunitas politik yang dibayangkan (Imagined political community), sebuah istilah yang ditelurkan Benedict Anderson, ternyata tidak mampu atau memang tidak berkehendak untuk mempersatukan seluruh warganya. Myanmar yang mayoritas Buddhis ternyata enggan memisahkan akar agama Buddhanya dari preferensi politiknya. Disinilah kita melihat sebuah contoh kegagalan sekularisme, masyarakat dan pemerintah Burma tetap terikat pada keagamaannya. Konflik Rohingya ini juga menunjukkan bahwa agama tetap aktual dalam mempengaruhi pola fikir dan pandangan mayoritas insan. Keyakinan sebagian ilmuwan barat bahwa agama akan kehilangan pengaruhnya dan semakin ditinggalkan di abad 21 ternyata ditolak mentah-mentah oleh realita dunia saat ini.

Dilain pihak, pemimpin Turki pun memperlihatkan sikap yang sama dalam kecondongannya terhadap agama. Setelah hampir seabad digempur oleh sekularisme ekstrim yang tidak ubahnya bagaikan sebuah agama baru yang keramat dan tidak boleh dikritisi, Turki dibawah pemimpinnya yang baru memperlihatkan upayanya mewujudkan idealisme Islam dalam membela kepentingan umat Islam yang tertindas. Didalam negerinya pemerintah yang lebih Islami ini berhasil memajukan industri dan mensejahterakan rakyatnya sehingga disegani oleh seluruh negera Uni Eropa yang justru digempur krisis ekonomi berkepanjangan. Di luar negeri pemerintah Islami Turki pun meluncurkan politik luar negeri yang pro aktif membela kepentingan umat Islam.

 

Terlepas dari kritik pedas pengamat politik Barat yang menilai kebijakan politik luar negeri ini sebagai sebuah upaya Neo-Ottomanisme yang mencoba membangkitkan pengaruh global Turki di dunia, rakyat Indonesia yang mayoritas Muslim hendaknya memahami bahwa langkah Turki ini tidak lain sebuah pengejawantahan dari konsep ‘ummah‘ atau keumatan didalam ajaran Islam sendiri.

Bukankah Rasulullah saw. Telah bersabda: “Perumpamaan kaum mukmin dalam sikap saling mencintai, mengasihi dan menyayangi, seumpama tubuh, jika satu anggota tubuh sakit, maka anggota tubuh yang lain akan susah tidur atau merasakan demam.” [HR. Bukhari Muslim]

 

Tiada lain maknanya adalah bahwa seorang yang beriman akan merasa sakit bila saudaranya disakiti dan merasa sedih bila saudaranya bersedih. Sebaliknya ia akan bahagia bila saudaranya bahagia, dan ia akan senang bila saudaranya memperoleh kesenangan.

 

Sikap pemimpin Turki yang berupaya mengayomi umat Islam yang tersakiti diluar garis perbatasannya adalah sebuah tauladan yang patut dicontoh oleh pemimpin Indonesia. Alih-alih merugikan, justru sikap kepedulian ini semakin mencuatkan pengaruh regional dan global Turki sebagai sebuah negara yang kuat.

 

Indonesia dengan posisi geografisnya yang cukup jauh dari tanah kelahiran Islam, oleh karenanya hendaklah beranjak untuk mengaktualisasikan peranannya di kancah regional seperti ASEAN guna melancarkan diplomasi penuh menekan pemerintah Myanmar dan membantu para pengungsi Rohingya. Terlebih mengingat posisi Indonesia yang sangat strategis dan berpengaruh di antara negara-negara Asia Tenggara. Selain merupakan bagian dari ajaran Islam, sesungguhnya ini merupakan kewajiban moril sebuah bangsa merdeka dan bermartabat yang memberi suaka bagi para pengungsi dan juga wujud pelaksanaan Amanat UUD 1945 yang menjunjung tinggi perikemanusiaan dan perikeadilan.

 

Para pahlawan nasional Indonesia yang lahir dari rahim umat Islam telah mencontohkan pembelaan mereka terhadap hak-hak asasi manusia, adakah generasi pemimpin sekarang ini mau belajar dari para pahlawannya yang mulia itu?

 

Doha, 20 Mei 2015

Ady C. Effendy, MA

 

 

One thought on “Antara Nilai Kemanusiaan dan Keislaman: Kewajiban Moril Indonesia dan rakyat Indonesia Terhadap Etnis Muslim Rohingya

  1. …The problem isn't medicine, its gov9enment.It&#3r;s medicine, too; physicians do nothing when an issue that can severely impact patients is usurped by, of all people, computer technicians.The physicians who do nothing perhaps deserve their fate; however, patients injured or killed do not deserve theirs.– SS

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *