Intrik-Intrik dalam Dakwah

massa-aksi1

Dakwah telah ada di atas muka bumi ini semenjak awal keberadaan manusia. Dakwah tidak akan pernah selesai selama masih ada manusia-manusia yang lalai dari tugas dan amanahnya diatas muka bumi. Dakwah adalah tugas yang mahaberat yang dipikulkan kepada kaum mukminin. Ia dilaksanakan untuk mengajak orang-orang yang tidak beriman kepada-Nya ataupun orang-orang yang bermaksiat agar mau kembali ke jalan yang diridhoi-Nya. Dakwah tidak dapat dilaksanakan oleh seorang pribadi atau individu. Hal ini dikarenakan tantangan dakwah itu sendiri yang sangat berat serta bahaya yang mungkin saja menyertai dakwah. Selain itu dakwah juga membutuhkan pasokan sumber daya yang tidak kecil, baik sumber daya material, sumber daya insani, sumber daya kecerdasan, dan lain sebagainya. Karena dakwah harus dilaksanakan oleh sekelompok manusia yang berbagi satu visi dan misi maka tentulah intrik-intrik dan friksi-friksi tidaklah terhindarkan, karena memang manusia termasuk para pengusung dakwah (dai) adalah makhluk yang tidak sempurna dan memiliki keinginan-keinginan yang berbeda-beda. Intrik-intrik bukanlah hal yang harus ditakuti ataupun disapu bersih sama sekali dari dalam jamaah dakwah karena itu adalah sesuatu yang mustahil dilakukan. Sebaliknya, intrik-intrik tersebut wajar ada namun haruslah diredam dengan cara-cara yang syar’i dan positif, seperti melalui sarana tawashou bil haqq dan tawashou bisshobr.

Terdapat beberapa sebab terjadinya intrik-intrik didalam dakwah, yang pertama diantaranya adalah timbulnya kecemburuan dalam dakwah.

Telah menjadi sunnatullah bahwa dakwah itu diusung oleh orang-orang mukmin yang memiliki beragam kemampuan dan kelebihan. Justru dengan warna-warni kemampuan dan kelebihan itulah individu-individu dalam jamaah dakwah bekerja sama. Tidak dapat dibayangkan akan ada sebuah jamaah dakwah yang semua anggotanya memiliki kemampuan yang sama. Jikalau demikian tentulah tidak diperlukan kerjasama, karena tidak ada yang perlu saling disokong dan ditopang satu sama lain. Justru tabiat manusia yang beragam dan bakat yang beragam itulah yang membuat manusia bekerja sama dalam dakwah demi mencapai tujuan dakwah itu sendiri. Ada pengusung dakwah yang lebih menguasai ilmu sementara kurang dalam finansial, ada pengusung dakwah yang lebih dalam masalah finansial tetapi kurang dalam hal ilmu, ada yang cuma memiliki kelebihan tenaga dan tidak memiliki kelebihan lain, ada yang memiliki kemampuan manajerial lebih dari lainnya, demikian seterusnya. Mungkin saja ada yang memiliki berbagai kelebihan itu dalam dirinya, meskipun hal demikian ini jarang, walaupun tidak mustahil. Demikianlah Sang Pencipta dengan hikmah-Nya membagikan bermacam-macam karunia-Nya sesuai kehendak-Nya. Tidak ada yang dapat dilakukan kecuali menerima dengan ikhlas dan ridho dengan karunia Allah swt sembari terus menerus bekerja menggapai karunia Allah yang lebih besar, sembari bekerja sama demi mewujudkan tujuan-tujuan dakwah tersebut. Kecemburuan dalam dakwah timbul ketika individu tidak memahami makna dakwah itu sendiri. Ibarat jasad manusia, dakwah bisa bergerak dan berjalan dengan koordinasi dan keselarasan antar organ-organ dalam tubuh dakwah itu sendiri. Tidak dapat dibayangkan bagaimana manusia dapat berfungsi dengan baik apabila organ-organ didalam tubuhnya saling mencemburui dan saling tidak bersinergi. Kaki yang cemburu dengan mata yang selalu berada diatas dan dipandang oleh orang, mata yang cemburu dengan otak yang selalu mengatur aktivitas berbagai organ-organ tubuh manusia, otak yang cemburu dengan rambut yang selalu santai menjadi penghias wajah tanpa dituntut bekerja apapun! Jikalau itu yang terjadi didalam tubuh jamaah dakwah, apa yang akan terjadi? Dakwah mungkin saja berjalan namun dengan berbagai diagnosa penyakit yang menanti-nanti waktu hingga divonis oleh dokter sebagai jasad yang telah tewas atau binasa.

Intrik kedua adalah tidak adanya amal Jamai. Terkadang ada seorang pengusung dakwah yang merasa memiliki stamina bagaikan superman sehingga ia hendak memikul segala macam aspek dalam dakwah. Ia berlari sangat kencang untuk memenuhi berbagai tuntutan dakwah, sementara membiarkan para organ dakwah yang lainnya tidak berfungsi karena segalanya telah dipikul olehnya seorang diri. Usia dari dakwah model seperti ini tidak akan bertahan lama karena sejauh-jauh dan sekuat-kuat insan berlari, ia pasti akan kelelahan. Sudah menjadi ketentuan Allah bahwa Dia tidak menjadikan seorangpun di alam semesta ini sempurna, sehingga tidak ada seorang individu pun diatas muka bumi ini yang akan sanggup melaksanakan segalanya sendirian. Seorang milyuner akan mati bila tidak ada petani dan peternak yang bekerja menghasilkan produk pangan yang bisa dibeli dengan uangnya dan dikonsumsi. Seorang buruh pun tidak dapat melangsungkan pekerjaannya bila tidak didukung oleh keuangan yang memadai untuk membiayai kerjanya tersebut. Demikian pula dakwah yang menuntut kerjasama dan kebersamaan. Tanpa itu, kabarkanlah tentang kematian dakwah itu sendiri.

Intrik ketiga adalah tidak adanya komitmen terhadap kesepakatan bersama. Frase yang terakhir ini dikenal baik dengan istilah islam sebagai syuro. Benar, syuro atau kesepakatan bersama sangatlah penting didalam kelangsungan jamaah dakwah. Islam sebagai agama yang sempurna dan realistis dalam membangun peradaban manusia menekankan dengan kuat arti penting syuro ini bagi keteguhan sebuah kumpulan manusia terlebih lagi organisasi. Hal ini pun telah dicontohkan sendiri oleh penghulu manusia dan pemimpin manusia yang paling mulia Rasulullah saw. yang telah dikarunia berbagai kelebihan oleh Allah Swt. namun tidak pernah memutuskan segala sesuatu kecuali setelah memanggil para sahabatnya. Jikalau pribadi yang demikian sempurna tidak bercela saja sedemikian kuatnya memegang kesepakatan bersama maka tentulah insan-manusia yang lebih rendah nilai derajatnya dari beliau saw. haruslah pula memegang prinsip ini. Sehingga tidaklah dapat diterima seorang mukmin yang mengorbankan hasil syuro karena keinginan pribadi, selain bila terdapat udzur syar’i yang benar-benar dikonfirmasikan. Pelajaran berharga tentang ini telah diperoleh dari kekalahan dalam perang Uhud, dimana kesepakatan bersama dan instruksi ke atas para pasukan pemanah yang bersiaga diatas gunung Uhud ternyata  dilanggar oleh pribadi-pribadi yang tidak mampu memegang hasil kesepakatan itu.

Intrik yang keempat adalah kegagalan manajerial pemimpin dakwah itu sendiri. Pemimpin dakwah memegang peranan sangat krusial dan genting didalam memimpin amal dakwah. Beliau harus memiliki kemampuan manajerial atau pengaturan yang melebihi pengusung dakwah lainnya. Untuk itu, ia harus memahami dan mengenali segala kemampuan dan kelebihan orang-orang yang dipimpinnya dan memaksimalkan kemampuan-kemampuan itu dengan pembagian amanah/ tanggung jawab secara tepat. Tanpa kecerdasan manajerial ini, maka dakwah akan berjalan terseok-seok karena setiap pion diletakkan pada posisi yang salah. Dan yang tidak kalah penting lagi adalah bahwa pemimpin dakwah yang berhasil haruslah akomodatif dan menghargai hasil karya dan hasil kerja orang-orang yang dipimpin. Sesempurna apapun, manusia adalah makhluk yang berhati, dan hatinya itu terdiri dari dua sifat yang saling melengkapi, senang dan sedih, gembira dan kecewa, tertawa dan menangis, dst. Penghargaan dan penghormatan terhadap hasil karya seorang pengusung dakwah akan menyebabkan sisi positif dari pengusung dakwah itu berkembang dan mengecilkan sisi negatifnya, sehingga ia akan bekerja lebih keras demi keberlangsungan dakwah. Hal ini bukanlah berarti bahwa seorang insan itu gila akan pujian dan penghormatan, tetapi memang demikianlah manusia diciptakan. Telah banyak kabar dari Sirah Rasulullah saw. yang mengabarkan betapa pandainya Rasulullah saw. membesarkan hati dan mengobarkan semangat para sahabatnya yang berada disekelilingnya sehingga tidak heran bahwa seluruh sahabat Rasulullah saw. bukan hanya siap berlelah-lelah demi dakwah Islam yang diyakini kebenarannya melainkan juga siap sedia mengorbankan harta dan jiwa demi kejayaan Islam itu sendiri. Contoh lainnya berasal dari tokoh Napoleon Bonaparte yang telah menjadi contoh rahasia umum kesuksesan seorang pemimpin militer. Disebutkan bahwa Napoleon mengingat nama-nama setiap prajuritnya dan mengetahui secara seksama keadaan keluarga dari prajurit-prajuritnya tersebut. Seorang prajurit pernah merasa tersanjung, ketika Jendral Napoleon mengucapkan selamat kepadanya atas kelahiran putranya padahal ia tidak pernah memberitahukan hal itu kepada sang jendral. Tidak heran para prajuritnya bersedia berkorban nyawa demi dirinya dan itu menjadi salah satu rahasia kesuksesannya dalam berbagai peperangan besar.

Sebagai penutup, haruslah disadari oleh semua pekerja dakwah bahwa organisasi dakwah bukanlah milik individu perseorangan dengan mengecualikan individu lainnya. Organisasi dakwah adalah sarana yang bertujuan untuk mengajak kepada Allah swt. Sang Pencipta dan Pengutus Rasul-Nya, dan bukan sarana untuk memuaskan ego pribadi dan kesenangan pribadi. Oleh karena itu, organisasi  dakwah haruslah menjadi sebuah sistem yang menopang kebutuhan dakwah itu sendiri. Sistem yang melahirkan pengusung-pengusung dakwah secara berkelanjutan dan berkesinambungan. Sistem yang menelurkan manusia-manusia mulia yang berkorban bagi risalah Islam. Bagaikan pabrik Mobil Mercedes yang memproduksi jutaan mobil Mercedes yang berkualitas dan siap membawa nama besar mobil mewah tersebut, demikian pula organisasi dakwah haruslah menjadi pabrik-pabrik yang melahirkan pengusung-pengusung dakwah yang besar dan teguh yang membawa nama besar dakwah Islam itu sendiri. Maka dari itu, organisasi dakwah tidak boleh tersendat oleh sebuah figur tertentu, melainkan haruslah berjalan diatas sistem yang mampu berjalan kokoh melahirkan figur-figur dari generasi-generasi mendatang. Tanpanya, dengan berat hati harus kita akui bahwa organisasi tersebut tidak akan bertahan lama dan akan lahir organisasi-organisasi lain yang mampu mengambil peranan yang ditinggalkannya. Wallahu a’lam bisshowab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *