Ta’aruf

Assalamu’alaikum warohmatullohi wabarokatuh,

Alhamdulillah wassholatu wassalamu ‘ala Imamil mursalin, Nabiyyina Muhammad, wa ‘ala aalihi wa ashabihi wa manittaba’a hudahum ilaa yaumiddiinn, wa ‘amma ba’d,

Sebuah ungkapan mengatakan ‘tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta’, tak cinta tentulah tak diperdulikan. Karena itulah saya mencoba berta’aruf dengan para pembaca sehingga apa yang saya bagi di blog sederhana ini menjadi lebih bermanfaat dan diterima dengan baik. Semoga pula para pembaca tidak lupa mengucap doa kepada-Nya agar ampunan-Nya selalu tercurah kepada seorang hamba-Nya yang fakir ini.

Saya dilahirkan di Jambi, 19 Maret, 1984 diantara keluarga yang keturunan Tionghoa. Seluruh pendidikan dasar dan menengah diselesaikan di bidang umum, namun beruntung sempat belajar pengetahuan Islam pada mata pelajaran agama Islam ketika sekolah menengah pertama. Disaat itulah saya berpindah agama dan memeluk Islam. Sekarang telah menikah dengan seorang muslimah keturunan Sunda Bogor, dikaruniakan empat orang putra dan putri (Ali, Isa, Maryam, Dawud, dan Asiyah), alhamdulillah.

Hampir sepuluh tahun perjalanan saya mencari ilmu agama, juga diselingi dengan bekal ilmu dunia untuk menopang diri dan keluarga. Awal mula renungan tentang kehidupan dimulai ketika saya yang berusia 6-7 tahun (tidak ingat pasti) menyaksikan jenazah kaku dari kakek saya sendiri yang meninggal. Saya yang tidak mengerti kemudian bertanya kepada ibu saya, mengapa kakek tidak bergerak? Ibu saya menjelaskan bahwa kakek telah meninggal atau mati dan akan dikremasi atau dikubur (tidak ingat persisnya). Fakta tentang kematian dan kehancuran jasmani insan manusia begitu ‘menghantui’ pikiran saya dan tidak bisa dianggap sebagai suatu perkara biasa dalam benak kecil saya waktu itu. Saya terus bertanya tentang kematian kepada ayah dan ibu saya, namun seringkali dinasehati untuk tidak membicarakan kematian karena orangtua saya merasa risih atau menganggapnya sebagai hal yang tabu untuk dibicarakan. Waktu pun berlalu, saya pun tidak lagi terlalu sedih mengingat kenyataan tersebut dan sibuk dengan ibadat menurut kepercayaan agama tradisi saya.

Beruntung, ketika saya masuk sekolah menengah pertama, saya berkesempatan mengenal ajaran Islam tentang sifat-sifat Allah, mukjizat para Nabi as. dan Rasul as. dan tentang Hari Kiamat. Setelah melakukan perbandingan dengan agama sebelumnya, akhirnya memang hati saya tidak bisa berbohong. Islam adalah agama yang ajarannya paling rinci dan seksama mengenai jalan hidup manusia di alam ini.

Setelah meyakini dan memeluk Islam, saya sempat beberapa lamanya disibukkan oleh urusan duniawi dan mengejar pendidikan umum dengan masuk ke universitas swasta di Jakarta untuk belajar di jurusan computer. Tetapi takdir berkata lain, saya akhirnya keluar dari kampus dan beralih mengejar ilmu di bidang agama Islam. Target pertama saya adalah kampus LIPIA (Lembaga Ilmu Pengetahuan Islam dan Arab) di kawasan Warung Buncit karena terkenal gratis dan malahan dibayar oleh pemerintah Saudi Arabia, tentu cukup meringankan bagi pelajar. Setelah berkonsultasi dengan teman-teman, mereka menyarankan agar langsung ke kantor administrasi dan mencoba meminta keringanan agar dapat belajar disana karena adalah orang yang pindah agama. Ada kesempatan yang diberikan untuk ikut ujian bahasa Arab dan saya menjalaninya. Tetapi ungkapan seorang staff administrasi sebelum masuk ke ruang ujian yang menyatakan bahwa pemula seperti saya pasti tidak akan lulus telah membuat saya benar-benar tidak bersemangat untuk melihat hasil ujian, walaupun saya menyelesaikan ujian tersebut. Akhirnya saya membatalkan niat untuk belajar disana meski gratis. Namun semangat belajar Bahasa Arab dan ilmu-ilmu Islam tetap membara. Saya meyakini ada jalan lain untuk menuntut ilmu meski bukan disana.

Akhirnya saya memilih melanjutkan studi pada program bahasa Arab yang ada di kampus-kampus di Jakarta. Setelah menelpon kampus-kampus Islam di Jakarta, akhirnya saya memilih melanjutkan studi saya di Universitas Islam Jakarta, sembari mencoba-coba mengirimkan murasalah aplikasi melalui seorang sahabat asal Aceh yang sedang belajar di Universitas Islam Madinah agar bisa diterima, namun belum juga diterima. Keinginan untuk pergi ke negeri Timur Tengah masih kuat sampai-sampai saya hampir terjun bebas ke Universitas Internasional Afrika di Khartoum, Sudan, dengan bantuan seorang ustadz yang mengajar di Al Hikmah dan memang jebolan Sudan. Namun kepergian ini dibatalkan karena istri mengalami keguguran sehingga niat itu harus diurungkan. Setelah lulus program Bahasa Arab di Universitas Islam Jakarta dan meraih gelar Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.), keinginan untuk belajar di Timur Tengah masih cukup kuat, namun kesempatan belajar tak kunjung datang. Saya merasa kehabisan langkah sehingga mendaftar pada program Magister Politik dan Hubungan Internasional di Timur Tengah di Universitas Indonesia dan Magister Pendidikan Bahasa di Universitas Negeri Jakarta. Saya diterima untuk belajar di kedua universitas negeri namun di waktu yang sama dibuka beasiswa di Kulliyyat Dirasat Islamiyah Qatar (QFIS) yang berada dibawah Universitas Hamad bin Khalifa. Persis di waktu yang berdekatan, saya mendapat musibah dimana putra kedua saya meninggal pada usia satu tahun akibat kesulitan bernafas, sementara dokter di rumah sakit gagal memberi nasehat medis yang tepat dan tidak menyarankan rawat inap bagi putra saya. Akhirnya ia pergi lebih dahulu ke kampung halaman yang lebih damai berkumpul bersama Abul Anbiya Ibrahim as., Inna Lillahi wa innaa ilaihi rojiun. Sedih namun inilah kehidupan, kita tak pernah tahu kapan perpisahan itu akan datang, boleh jadi sangat dekat. Setiap peristiwa pahit dalam kehidupan mestilah mengandung hikmah yang agung, yang mungkin tidak diketahui oleh insan manusia.

Dengan sisa-sisa semangat, saya melengkapi persyaratan-persyaratan beasiswa yang mencakup essay dalam bahasa Inggris dan Arab, serta TOEFL minimal 550 yang saya ambil di TOEFL kelembagaan di sebuah universitas negeri. Akhirnya pada suatu siang, cita-cita saya terbang belajar ke Timur Tengah tercapai dengan kabar berbahasa Arab dari seberang telepon yang mengatakan saya mendapat beasiswa belajar di Doha, Qatar secara penuh untuk bidang studi Dirasat Islamiyyah. Allahu Akbar…

Sungguh sebuah keinginan yang tertunda, namun tercapai, walillahil hamdu wasy syukr. Tidak hanya itu, karena studi saya pada level paska-sarjana, maka saya bisa membawa keluarga, sehingga tidak perlu berpisah. Setelah genap tiga tahun di Doha, menyelesaikan Advanced Arabic Course lalu Postgraduate Diploma (PG Dipl.) bidang Dirasat Islamiyyah, dan sedang menyelesaikan program Master of Arts (MA) di bidang Kajian Pemikiran Islam dan Masyarakat Muslim Kontemporer di Hamad Bin Khalifa University, saya merasa saatnya saya berbagi sedikit yang saya ketahui dan sedikit pengalaman yang saya lalui.

Sampai ke titik ini dan setelah menempuh separuh perjalanan kehidupan, saya merasa bahwa segala ilmu yang telah saya pelajari dan masih terus saya dalami haruslah saya share kepada semua orang, muslim atau non-muslim, tanpa kecuali, sebelum ajal tiba. Meski ‘baru’ berusia 28 tahun, namun saya telah merasa cukup tua dan merasa tiada alasan lagi menunda untuk berbagi. Bukankah tiada jaminan bahwa umur seseorang cukup panjang hingga dapat mencapai usia 60 tahun atau lebih. Belum lagi motivasi yang diberikan dalam sebuah hadits Nabi SAW yang maknanya: “Seorang hamba pada hari kiamat tiada melangkah kedua kakinya, sehingga padanya ditanyakan tentang empat perkara, yaitu tentang umurnya, dihabiskan untuk apa; tentang ilmunya, diamalkan untuk apa; tentang hartanya darimana diperolehnya dan diinfakkan untuk kepentingan apa, serta tentang fisiknya digunakan untuk apa.” (HR.Tirmidzi). Lengkap sudah alasan yang mendorong diri saya menulis agar dapat berbagi sedikit pengetahuan yang telah dikaruniakan-Nya kepada saya.

Berkaca pada pengalaman saya dan banyak dai-dai lainnya, saya percaya bahwa kemampuan dakwah dan pengetahuan islam dapat ditularkan kepada semua orang pemula yang tidak mengetahui dasar-dasar ilmunya sekalipun. Jikalau disana ada ketekunan, ketulusan dan kesungguhan, maka insya Allah, akan terlahir dai-dai dari beragam asal usul sehingga dakwah tidaklah mesti dibebankan pada sosok muballigh semata. Bergantung pada siraman rohani dan wisata hati semata tidak mampu menggerakkan dan merubah keadaan. Yang dibutuhkan adalah pembinaan dan pendidikan yang berkelanjutan, itu yang saya yakini dan alami.

Tidak lupa saya mengucapkan terima kasih kepada guru agama Islam saya yang pertama di sekolah menengah pertama serta para guru saya ketika belajar bahasa Arab dan Kajian Islam di Indonesia maupun di Timur Tengah. Hanya Allah SWT yang dapat membalas segala limpahan pengetahuan yang telah diajarkan kepada saya. Saya tidak dapat menjadi lebih baik seperti sekarang ini tanpa makrifat yang diajarkan kepada saya. Harapan saya, semoga kumpulan tulisan ini bisa menjadi motivasi bagi pembaca yang memiliki cita-cita serupa. Jangan putus asa, terus mencoba dan terus belajar, insya Allah cita-cita akan tercapai. Terakhir, jangan lupa untuk sedianya berdoa kepada-Nya agar mencurahkan ampunan kepada hamba-Nya ini.

Ady C Effendy

Ady C. Effendy, MA

Saat ini berdomisili di Doha, Qatar.

Sedang melanjutkan studi doktoral, dan mengisi waktu dengan membaca dan menulis.

2 thoughts on “Ta’aruf

  1. Assalamualaikum ka,
    perkenalkan saya itmam, saya ingin memperdalam agama di qatar seperti kaka, ada kontak antum yg bisa saya hubungi ? syukron

  2. Assalaamu’alaikum wa Rahmatullah wa arakaatuh.
    Perkenalkan nama saya Zulfikar Amir di Jakarta.
    Saya membaca tulisan serta lampiran buklet Bapak di Hudayatullah.com dan Dakwatuna.com mengenai Beasiswa dari kementrian Waqaf Qatar, terutama mengenai Beasiswa setingkat Sekolah Menengah (Ma’had Diiny).
    Saya tertarik untuk mendaftarkan anak saya (saat ini sedang bersekolah di Pondok Pesantren Darunnajah kelas 3 tingkat MTs). Saya ingin menanyakan, formlir dan berkas-berkas dokumennya dikirimkan ke mana,,,? Apakah bisa melalui online ataukah dikirimkan manual…? Apakah ada link pendaftarannya…? Link yang ada sudah saya buka, itu untuk mendownload formulirnya.
    Atas perhatian dan penjelasan Bapak, saya ucapkan jazakallah khoiron katsiir…..

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *