Kebahagiaan dan Kesukacitaan Kaum Muslimin Terhadap Bulan Ramadan

ballighna ramadan

Sejak dahulu kaum muslimin menyambut bulan Ramadan dengan suka cita dan memberikan perhatian yang sangat besar padanya serta mempersiapkan diri sebaik-baiknya dalam memasuki permulaan bulan dengan kebahagiaan mengingat keutamaannya. Diriwayatkan dari Anas ra. bahwa Nabi saw. dahulu selalu berdoa untuk sampai pada bulan Ramadan….. ketika memasuki bulan Rajab, beliau saw. berdoa: “Ya Allah berkatilah kami pada bulan Rajab dan Sya’ban dan sampaikanlah kami pada bulan Ramadan.”

 

Kaum muslimin dahulu pun selalu menyambutnya dengan ungkapan doa mereka: “Ya Allah sesungguhnya bulan Ramadan telah hadir dan mendekati kami maka serahkanlah ia pada kami dan serahkanlah kami padanya, dan berikanlah kami rezki agar dapat berpuasa dan mendirikan sholat malam padanya, dan karuniakanlah kepada kami kesungguhan, tekad dan kemauan, dan lindungilah kami dari fitnah pada bulan ini.”

 

Hal ini dikarenakan pengetahuan mereka akan keutamaan bulan Ramadan dan luasnya keutamaan dan karunia Allah swt bagi mereka didalamnya. Di bulan inilah Allah mencurahkan rahmat-Nya kepada hamba-hamba-Nya, dan memberikan karunia-Nya serta meluaskan rezki dan kebaikan-Nya pada mereka, serta menjauhkan mereka dari kejatuhan. Di bulan inilah, Allah swt. membukakan bagi mereka pintu-pintu syurga, dan menutup pintu-pintu neraka dan mengikat para syaitan dan jin. Maka dari itu, bulan Ramadan adalah musim semi bagi umat Islam,  masa dimana mereka melakukan ibadah-ibadah yang berlimpah serta mendapati tumpahan kebaikan-kebaikan. Maka tiada bulan yang lebih utama daripadanya bagi seorang mukmin dan tiada amal yang melebihi amal dibulan ini. Ini adalah sebuah bulan yang dipandang sebagai ghanimah (harta temuan) bagi kaum mukminin.

 

Rasulullah saw. bersabda: “Bulan kemuliaan telah mendatangi kalian. Demi Allah tidak ada bulan yang lebih baik bagi kaum muslimin melebihinya. Dan tidak ada bulan yang lebih buruk bagi kaum munafik melebihi bulan ini. Demi Allah sesungguhnya Allah swt. akan menulis pahala dan tambahannya sebelum seseorang memasuki bulan Ramadan. Dan menulis bebannya dan kesulitannya sebelum seseorang memasukinya. Kaum mukmin akan mempersiapkan pada bulan ini bahan makanan dan hartanya untuk ibadah. Dan kaum munafik mencari-cari kelengahan dan kelalaian kaum mukmin. Maka beruntunglah kaum mukmin di bulan ini dengan keberuntungan yang besar.” Keberuntungan besar ini terwujud dalam ibadahnya dimana ia mendapatkan pahala yang berlipat ganda dari sholat, sedekah, serta kesempatan mendirikan sholat malam dan puasa, serta tilawah Al Quran dan majelis keimanan. Dengan semuanya ini, seorang mukmin akan mengambil bekalnya untuk satu tahun mendatang. Oleh karenanya, para pendahulu kaum muslimin yang sholeh selalu memohon kepada Allah swt. enam bulan sebelumnya agar mereka dapat menggapai bulan Ramadan, dan ketika mereka telah memasukinya mereka memohon agar Allah memberi mereka taufik didalam bulan mulia ini, serta mengkaruniakan bagi mereka kesungguhan dan kekuatan untuk beribadah. Dan bila bulan ini telah habis, mereka memohon kepada Allah swt. agar amal ibadah mereka di enam bulan yang tersisa dapat diterima oleh Allah swt.

 

Rasulullah saw. telah mengabarkan bahwa barangsiapa tidak memperoleh keutamaan dari bulan Ramadan maka dia tidak akan mendapatkan keutamaan apapun di bulan-bulan selainnya, dan barangsiapa yang tidak beroleh ampunan pada bulan Ramadan maka Allah swt. akan menempatkannya dalam neraka. Diriwayatkan dari Abi Hurairah Ra, Rasulullah naik ke atas mimbar, kemudian beliau berkata : “Amin..amin. .amin..”. Kemudian ditanyakan (para sahabat), kepada beliau : “Wahai Rasulullah, saat Engkau naik ke atas mimbar, Engkau sampai mengatakan Amin (3x) (ada apakah gerangan?)”Kemudian Rasulullah memberikan keterangan sbb: “Jibril telah datang kepadaku dengan mengatakan : “Barang siapa yang telah datang kepadanya bulan Ramadhan(puasa) , kemudian dia tidak mendapatkan pengAMPUNan (pada bulan Ramadhan tersebut), maka ia dimasukkan kedalam api neraka, dan Allah jauh dari dirinya, maka katakanlah :Amin” Kemudian aku mengaminkannya.

“Dan barang siapa yang mendapatkan orang tuanya (ketika keduanya masih hidup), atau salah satu diantara kedua orang tuanya masih hidup, sementara (dia mampu berbuat baik untuk kedua atau salah satu diantara keduanya), kemudian dia tak mau berbuat baik kepada keduanya, atau salah satu diantara keduanya (yang masih hidup tadi), kemudian mati, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka, dan Allah sangat jauh dari dirinya, maka aku katakan :Amin”

“Dan barang siapa yang dimana namaku disebutkan (didepannya) , kemudian dia tak memberikan shalawat kepadaku, maka Allah akan memasukkannya kedalam api neraka dan Allah sangat jauh dari dirinya, maka katakanlah (wahai Muhammad SAW) (amin), maka aku katakan “Amin” (H.R Ibnu Hibban didalam kitab shahihnya 3:188).

Tampaknya mengherankan bahwa malaikat Wahyu dan rahmat Jibril as. sampai berkata tentang muslim yang memasuki bulan Ramadan akan tetapi tidak beroleh ampunan Allah swt. sehingga dijauhkan dan dilemparkan kedalam neraka. Namun keheranan ini akan sirna bila kita merenungi hakikat keutamaan-keutamaan Ramadan dan kita pahami kekhususannya. Bulan Ramadan adalah bulan rahmat dan ampunan, dan sarana-sarana ketaatan dan pendekatan kepada Allah swt. sangatlah banyak, ditambah lagi begitu banyak motivasi pendorong serta orang-orang yang menyemangati dalam kebaikan. Dilain sisi, faktor-faktor keburukan sangatlah terbatas dan jerat-jerat syetan terbelenggu sementara rahmat Allah swt. diturunkan. Allah swt. juga membebaskan sejumlah muslimin dari api neraka di setiap malam bulan Ramadan. Dan pintu-pintu surga juga dibuka lebar semuanya sementara pintu-pintu neraka ditutup seluruhnya. Maka barangsiapa yang tidak beroleh rahmat Allah swt. dengan segala keistimewaan ini maka di kesempatan mana lagi dia akan mendapatkannya. Maka barangsiapa yang tidak mendapatkan ampunan di bulan ini maka pada waktu kapan lagi dia akan mendapatkannya? Sebagaimana seorang yang memasuki musim keuntungan/ laba sementara ia merugi dan tidak beroleh laba, maka kapankah lagi dia akan mendapatkan laba/ keuntungan? Barangsiapa yang tercebur kedalam laut akan tetapi tidak dapat dibersihkan dengannya maka apa lagi yang dapat membersihkannya?

Maka demikianlah barangsiapa yang tidak memperoleh ampunan di bulan Ramadan dengan taubat, meninggalkan keburukan dan kembali kepada Allah swt. serta melaksanakan ketaatan dan doa maka kapankah lagi dia akan mendapatkan ampunan itu. Jikalau ia diharamkan dari satu malam dimana kebaikannya melebihi seribu bulan maka apa lagi yang diharapkan setelah itu? Hadits ini maknanya mendekati hadits Rasulullah saw. tentang sholat: “Barangsiapa yang sholatnya tidak menghalanginya dari berbuat keburukan dan kemungkaran maka ia akan semakin jauh dari Allah swt.” Maknanya apabila ibadahnya dihadapan Allah swt. dan munajatnya kepada-Nya lima kali dalam sehari tidaklah mempengaruhi jiwanya maka apakah lagi hal selainnya yang akan mencegahnya dari perbuatan mungkar? Wallahu a’lam

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *