Kepercayaan Zaman Baru menurut timbangan Aqidah Islam (seri 21)

 

Kepercayaan-kepercayaan yang diusung oleh Gerakan Zaman Baru ini sesungguhnya adalah kepercayaan-kepercayaan yang usang, yang dapat kita jumpai pada agama-agama non-samawi, atau agama-agama buatan manusia. Kepercayaan seperti monisme, panentheisme, pantheism[1], reinkarnasi (tumibal lahir)[2], manusia yang mampu menaiki derajat hingga tingkat ketuhanan[3], tidak lebih dari angan-angan atau perasaan semu manusia yang tertipu. Tidak heran mengapa GZB menekankan pada perasaan karena dengan perasaan yang diselewengkan dan disimpangkan inilah mereka hendak menjadi tuhan, bukan dengan realitas, fakta dan akal yang logis.

Segala ajaran-ajaran ini yang ditawarkan oleh GZB kebanyakan berasal dari agama-agama timur atau agama-agama tradisional yang memang bersifat pagan atau menyembah berhala-berhala atau patung-patung. Sehingga jelas bahwa ajaran-ajaran GZB tidak lain dapat disebut sebagai paganism atau berhalaisme model baru (neo-paganism) yang berupaya menjual produk usang didalam kemasan kontemporer, futuristik, dan modern.

Sebagaimana dimaksudkan oleh ungkapan ini:

الكفر ملة واحدة

Kekafiran itu adalah agama yang satu.

Maka demikian pula GZB yang berisi ajaran ‘gado-gado’, ‘campur-aduk’, ‘es-campur’ ini adalah jelas ajaran syetan yang harus dihindari oleh semua mereka yang mengaku sebagai muslim, mukmin yang memegang ajaran dien Islam. Hukum dari segala ajaran-ajaran atau kepercayaan-kepercayaan ini adalah sesat-menyesatkan dan tertolak dari ajaran Islam yang murni dan jernih, mereka yang meyakininya dianggap keluar dari agama Islam atau murtad.

Allah berfirman:

Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan  kepada cahaya . Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah syaitan, yang mengeluarkan mereka daripada cahaya kepada kegelapan . Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.

(Q.S. Al Baqarah: 257)

Garis Pembatas Antara Akidah Muslim Dan Gerakan Zaman Baru

Dari pembahasan diatas, jelas bahwa seorang muslim tidaklah dibenarkan untuk meyakini ajaran-ajaran sesat, dan menyimpang ala GZB diatas yang sesungguhnya merupakan reaktualisasi atau ‘pemaketan ulang’ dari akidah-akidah agama berhala atau materi, atau akidah-akidah penyembah berhala/ makhluk.

Apabila muslim meyakini atau mengimani ajaran ini maka sungguh telah batallah syahadatnya, iapun harus bertobat dengan sungguh-sungguh dan mengulangi kembali syahadatnya.

Apabila muslim tersebut tidak meyakini tetapi ia terlibat dalam praktek-praktek mistis yang dijalankan oleh aliran GZB ini, maka sungguh ia telah ingkar terhadap ajaran Al Islam sehingga wajib atasnya bertaubat dan mengulangi syahadatnya karena ia telah kafir.

Apabila ia hanya mengikuti gerakan-gerakan seperti yoga ataupun mendengarkan musik tanpa mengikuti bacaan-bacaan mantra ataupun lirik khusus yang berisi ajaran paganism/ berhalaisme, maka hal ini masihlah harus dikaji oleh para ulama fikih yang jujur dan tegas di Indonesia. Apakah bisa seseorang muslim menggunakan yoga sebagai olahraga sehari-harinya tanpa mengikuti bacaan-bacaan. Bisakah yoga dianggap sebagai olahraga seperti senam? Begitu pula musik GZB yang digunakan untuk berdakwah sebagaimana yang dilakukan oleh sebuah training kecerdasan emosional dan spiritual, apakah ini bisa diterima menurut syariat Islam yang murni?

Adalah tugas ulama fikih Indonesia atau bahkan ulama muslimin di seluruh penjuru dunia guna menjawab hal ini, bila ternyata ulama fikih di Indonesia tidak mampu menjawabnya karena belum tercapainya syarat-syarat ijtihad.

Adapun sikap seorang muslim untuk sementara waktu hingga adanya kejelasan hukum adalah meninggalkan segala yang samar-samar atau syubhat atau tidak jelas.

 

Berislam secara Kaffah

Sesungguhnya berbagai problematika yang melanda umat Islam Indonesia saat ini, termasuk merebaknya kepercayaan-kepercayaan ataupun praktek-praktek ala GZB di Indonesia ini[4], semuanya bersumber dari satu pokok persoalan, yaitu tidak masuknya umat Islam Indonesia ke dalam agama Islam itu secara menyeluruh atau secara kaffah. Sudah sering kita dengar ungkapan tentang ‘Islam KTP’ ataupun ‘Islam kejawen’ yang sudah sama-sama dimaklumi oleh semua orang yang mendengar istilah tersebut, namun secara umum masih banyak muslim Indonesia yang belum mau untuk masuk kedalam Islam secara kaffah, padahal Allah SWT telah berfirman didalam kitab-Nya:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu.

(Q.S. Al Baqarah: 208)

Tetapi jika kamu menyimpang  sesudah datang kepadamu bukti-bukti kebenaran, maka ketahuilah, bahwasanya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(Q.S. Al Baqarah: 209)

Ketidakmauan atau keenganan untuk memeluk agama Islam secara kaffah ini telah menciptakan berbagai kontradiksi terkait gambaran umat Islam Indonesia. Walau mengaku mayoritas muslim, namun praktek-praktek kufur dan syirik masih merajalela di bumi Indonesia,[5] walaupun mengaku sebagai muslim, namun praktek-praktek korupsi tumbuh subur bahkan dilakukan beramai-ramai, sungguh memiriskan hati, tidak heran bila bumi Indonesia yang mayoritas muslim ini juga terkenal sebagai negeri bencana, mulai dari bencana sosial hingga bencana alam. Bencana sosial diantaranya kelaparan, merajalelanya pembunuhan, perzinahan, pergundikan, pornografi, aborsi, dan seterusnya. Sementara bencana alam juga bahkan sangatlah hebat, contohnya tsunami, gunung meletus, longsor, banjir bandang, gempa bumi, bahkan bencana yang menjijikan seperti tersebarnya ulat bulu, lintah, dan lain sebagainya. Semua bencana itu bukan datang kebetulan, namun merupakan teguran dan Allah SWT bagi orang-orang yang mengaku muslim ini, sebagaimana bisa kita tadabburi atau renungkan dari ayat Al Quran yang tertera diatas.

Sekiranya umat Islam Indonesia mau memeluk Islam secara keseluruhan tentulah kondisinya akan sangat berbeda, Indonesia akan menjadi negara madani yang maju dan diberkahi. Karena dien, bukanlah sekedar kepercayaan saja, melainkan merupakan jalan hidup, dan jalan hidup ini bila dijalani dan dipraktekkan sepenuh hati maka akan terbentuklah sebuah peradaban (tamaddun) manusia dimana segala aturan hukum dipatuhi dan terselesaikanlah beragam persoalan sosial dalam masyarakat madani atau berperadaban tersebut.[6] Jika hal ini yang terjadi maka akan terhindarkanlah masyarakat itu dari bencana alam yang justru timbul sebagai suatu teguran dari Allah SWT terhadap umat Islam Indonesia yang mengaku dirinya sebagai muslim atau orang yang berserah diri.

Allah SWT berfirman:

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan  itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.

(Q.S. Al A’raaf: 96)


[1]  Fitrah manusia yang bersih dari tipu daya setan akan dengan lantang menyatakan kemustahilan bersatunya makhluk dengan Pencipta, bagaimana bisa bersatu Dzat Yang Maha Mulia dengan dzat yang hina dina yang dipenui dengan kotoran, kehinaan, penyakit, dan kematian, jikalau bukan karena kemurahan dari Allah SWT Sang Maha Pencipta tentulah tidak ada seorang manusiapun yang dapat hidup. Lihat Al-Syaikh, Sholih bin Abdilaziz, Syarh al Aqidah al Tahawiyah, Bab Tafarrudillah Azza wa Jalla bil Uluhiyyah, juz 2 hal. 7. Lihat juga: Al-Ied, Umar bin Su’ud bin Fahd, Syarh Lamya Syaikh Ibn Taimiyyah, Bab Dalil Fitrah, juz. 14, hal 4.

[2]  Lihat Al-Faqih, Abdullah (Musyrif), Fatawa Syabakah Islamiyyah, tentang Al Qoul Bi Intiqol Ruh al Insan, No. 36533, juz 5 hal. 6221.

[3] Apa yang diyakini oleh kaum GZB sesungguhnya pengulangan dari apa yang pernah dikatakan oleh Firaun,” Aku tuhanmu yang tertinggi” sebagaimana termaktub didalam Al Quran Surat An Naziat ayat 24. Yang berbeda antara Firaun dan penganut GZB adalah jikalau Firaun mengatakan kalimat kufur itu karena kesombongan bersangatan didalam dirinya, sedangkan penganut GZB meyakini ketuhanan diri mereka karena angan-angan melampaui batas dan juga sebagai pelarian dari fakta kehidupan yang penuh dengan intrik dan kekerasan. Lihat Ibn Katsir, Tafsir Al Quran Al Azhiem, (Dar al Tayyibah, 1999).

[4] Diantaranya kepercayaan pada horoskop atau zodiak atau perbintangan, pengundian nasib, peramal, orang pintar, praktek-praktek mistis dan klenik, praktek sihir, dan lain sebagainya.

[5]  Ingat tentang kisah bocah cilik atau dukun cilik Ponari yang dipercaya dapat menyembuhkan penyakit.

[6] Al-Attas, Syed Muhammad Naquib, Prof. Dr., Islam and Secularism, (Kuala Lumpur: International Institute of Islamic Thought and Civilization (ISTAC), 1993), hal. 51-54.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *