Kewajiban Istri yang Sholehah terhadap Suaminya

little girl

Sesungguhnya pengetahuan insan tentang hakikat-hakikat penting didalam kehidupannya dapat menyelamatkan kehidupannya dari kesalahan-kesalahan yang menyakitkan dan mungkin terjadi padanya. Diantara kesalahan yang mungkin terjadi pada diri manusia adalah prasangkanya terhadap wanita dengan sangkaan-sangkaan yang bodoh dan pandangan buruk terhadapnya sebagai sumber keburukan dan noda, padahal hakikatnya wanita diciptakan dari jiwa yang lebih mulia secara fitrah dan naluriah. Allah swt. menciptakannya agar menjadi pasangan bagi pria dan dengan perjumpaan keduanya Allah swt. menciptakan lebih banyak lagi putra-putri sehingga pada hakikatnya tidak ada perbedaan diantara keduanya melainkan perbedaan dalam tugas kehidupan.

Allah swt. berfirman: “Hai sekalian manusia, bertakwalah kepada Tuhan-mu yang telah menciptakan kamu dari seorang diri, dan dari padanya  Allah menciptakan isterinya; dan dari pada keduanya Allah memperkembang biakkan  laki-laki dan perempuan yang banyak. Dan bertakwalah kepada Allah yang dengan  nama-Nya kamu saling meminta satu sama lain , dan  hubungan silaturrahim. Sesungguhnya Allah selalu menjaga dan mengawasi kamu.” (An Nisa: 1)

Kemanusiaan telah tenggelam dalam kesalahan besar pada suatu masa yang lampau ketika insan manusia merampas hak-hak wanita dan kekhususannya disebabkan oleh pandangan bodoh yang tidak berdasar yang menganggap wanita sebagai setan yang selalu mengusik dan mengganggu manusia atau penyakit yang tidak terelakkan serta ancaman bagi kelangsungan keluarga dan rumah tangga. Inilah pandangan salah seorang pendeta di Eropa di masa lalu dan ketika mereka ingin memperbaiki kesalahan ini mereka menempuh langkah ekstrim yang lainnya sehingga mereka tenggelam dalam penyimpangan lainnya. Mereka memberi kebebasan berlebihan kepada wanita.  Pada hakikatnya wanita adalah insan yang diciptakan untuk insan dan bagian yang dilengkapi bagian lainnya. Hubungan keduanya bukanlah kesamaan, melainkan hubungan antara pasangan yang saling melengkapi yang didasarkan atas cinta dan kasih. Atas dasar pemahaman ini maka seorang wanita berupaya membuat suaminya ridho dan membantunya untuk menanjak diatas tangga ketakwaan serta menghilangkan godaan dan tipu-daya setan. Melalui kasih sayang ini sang suami bekerja keras membahagiakan istrinya dan menguatkan dirinya dengan keterbukaan hati atas kesalahannya. Demikianlah hubungan suami istri sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam.

Diriwayatkan bahwa Asma binti Yazid ra. mendatangi Nabi saw. yang sedang bersama para sahabatnya ra. dan mengatakan: “Sesungguhnya saya ini diutus oleh para ibu-ibu kepadamu wahai Rasulullah saw. Sesungguhnya Allah swt. telah mengutusmu dengan kebenaran bagi kaum pria dan wanita maka kami beriman dan mengikuti engkau, dan sesungguhnya kami wanita adalah fondasi bagi rumah-rumah tangga kaum pria dan melahirkan putra-putri bagi mereka. Sementara kaum pria diberi keutamaan diatas kami dengan kelapangan untuk berkumpul dan menyaksikan jenazah serta yang lebih utama lagi adalah kelebihan untuk berjihad di jalan Allah swt. Sesungguhnya ketika kaum pria berpergian untuk haji, umrah atau berperang maka kami menjaga harta mereka, dan mencuci pakaian mereka, mendidik anak-anak mereka, maka tidakkah kami beroleh bagian kebaikan dari semuanya ini wahai Rasulullah?” Maka Rasulullah memalingkan wajahnya kepada para sahabatnya dan berkata: Apakah kalian pernah mendengar perkataan wanita yang lebih baik daripada ini tentang urusan agama mereka, lalu para sahabat berkata: kami tidak mengira ada wanita yang berfikir tentang hal ini, maka berpalinglah Rasulullah saw. kepada wanita tersebut dan bersabda: ((pergilah dan kabarkanlah kepada seluruh kaum wanita yang menantimu bahwa ketaatan kepada suami atas dasar pengakuan akan haknya menyamai segala keutamaan sang suami dan sesungguhnya hanya sedikit diantara kalian yang mampu melakukannya)), maka pergilah wanita tersebut dengan hati yang bahagia hingga sampailah ia kepada kumpulan sahabatnya dan memberitahukan apa yang disabdakan oleh Rasulullah saw. sehingga berbahagialah mereka dan damailah hati-hati mereka semuanya.

Sesungguhnya kepedulianlah yang mendorong mereka untuk bertanya tentang apa yang diridhoi oleh Allah swt.

Simaklah selanjutnya kisah yang harum semerbak berikut ini:

Ketika Syuraih, seorang Qadi dan Faqih, menikahi Zainab binti Jarir dari Bani Hanzholah dan menceritakannya kepada Al Sya’bi seraya berkata: “Tahukah engkau wahai Sya’bi, para sahabat istriku telah mengajarinya sebelum ia mendatangiku, ketika saya berkata: sesungguhnya termasuk sunnah apabila istri memasuki kamar suaminya maka suaminya hendaklah melaksanakan sholat dua rakaat, dan meminta kepada Allah swt. kebaikan dari istrinya dan memohon perlindungan kepada Allah swt. dari keburukannya seraya berdoa: Allahumma inni asaluka khoiroha wa khoiro ma jubilat alaihi, wa audzubika min syarriha wa syarri ma jubilat alaihi (Ya Allah, aku memohon kepadamu kebaikannya dan kebaikan yang ada padanya, dan aku berlindung kepadamu dari keburukannya dan keburukan yang ada padanya), kemudian aku sholat dan mengucapkan salam, maka kulihat ia berada dibelakangku sedang melakukan sholat sebagaimana aku sholat, dan ketika rumahku telah sepi dan aku mendekatinya, serta kuletakkan tanganku didekatnya dia berkata: “Pelan-pelan wahai Abu Sumayyah, tetaplah ditempatmu, lalu ia berkata: ”Alhamdulillah, ahmaduhu wa astainuhu wa usholli ala Muhammad wa aalihi, sesungguhnya saya adalah seorang wanita asing bagimu, saya tidak tahu bagaimana akhlaqmu maka beritahukanlah kepadaku apa yang kau sukai sehingga aku memberikannya, dan apa yang tidak kamu sukai sehingga aku menjauhinya.” Ia lalu berkata: “sesungguhnya diantara kaummu terdapat orang yang dapat kaunikahi, demikian pula diantara kaumku, akan tetapi apabila Allah swt. menghendaki sesuatu maka hal itu pasti terjadi, dan engkau telah memiliki (aku), maka perbuatlah sesuai dengan apa yang diperintahkan Allah swt. kepadamu: mempertahankan (pernikahan) dengan ma’ruf atau menceraikan secara baik-baik, aku sudah selesai dengan apa yang hendak kukatakan dan aku memohon ampun kepada Allah bagiku dan bagimu.” Syuraih berkata: “Demi Allah wahai Sya’bi hal itu telah memaksaku untuk mengungkapkan pandanganku, lalu aku berkata: “Alhamdulillah, aku memuji-Nya, dan memohon pertolongan-Nya, dan aku bershalawat keatas Nabi-Nya dan keluarganya, wa ba’du, sesungguhnya telah kau ungkapkan perkataan yang apabila dipegang teguh maka akan menjadi bagian pahala kebaikanmu dan jika kau tinggalkan akan menjadi dosa bagimu, sesungguhnya aku menyukai hal-hal ini dan membenci hal-hal ini, dan kita adalah sama maka janganlah kau takut, dan apa yang kau pandang sebagai sesuatu yang baik maka sebarkanlah atau sebagai sesuatu yang buruk maka tutupilah, lalu wanita itu berkata: maka bagaimanakah dengan kecintaanmu dalam berkunjung kepada sanak keluarga, berkatalah Syuraih: saya tidak suka membuat mereka bosan (dengan seringnya berkunjung), maka siapakah yang kau suka dari sanak saudaramu untuk memasuki rumahmu sehingga aku dapat memberi izin baginya dan siapa yang tidak kau suka sehingga aku melarangnya, berkatalah Syuraih: Banu fulan adalah kaum yang soleh sedangkan banu fulan adalah kaum yang tidak baik. Syuraih berkata: maka wahai Sya’bi aku merasakan malam yang paling menyenangkan dalam hidupku, dan dia tinggal bersamaku selama satu tahun dan tidak memperlihatkan kecuali hal-hal yang aku sukai, dan ketika awal tahun saya datang dari majlis pengadilan tiba-tiba datanglah seorang perempuan tua yang melarang dan memerintah didalam rumah, saya berkata: siapakah perempuan tua ini, maka orang-orang berkata fulanah mertuamu, maka disembunyikanlah dariku apa yang sebelumnya saya dapati, maka ketika aku duduk dan menerima perempuan tua itu yang berkata: Salam atasmu wahai Aba Umayyah, saya berkata: waalaikum salam siapakah anda, ia berkata: saya adalah fulanah mertuamu, saya berkata semoga Allah swt. memudahkan urusanmu, dan ia berkata: bagaimana menurutmu istrimu?, aku berkata: ia adalah sebaik-baik istri, maka dia berkata: wahai Aba Umayyah, sesungguhnya wanita tidak berada dalam kondisi yang terburuk kecuali dalam dua hal: ketika ia melahirkan putra atau ketika ia beroleh kedudukan di sisi suaminya, maka apabila ia membuatmu bingung ragu maka hukumlah ia. Demi Allah tidaklah seorang suami mendapat sesuatu yang lebih buruk dari istri yang terlalu manja, saya berkata: sesungguhnya demi Allah engkau telah mendidik putrimu dengan sangat baik, dan telah engkau latih dengan sangat baik, ia berkata: engkau suka bila mertuamu mengunjungi? Saya katakan: kapanpun mereka suka.

Syuraih berkata,” Ibu mertuaku lalu mengunjungiku di setiap awal tahun dan menyampaikan nasihat sebagaimana sebelumnya. Aku hidup bersama istriku selama dua puluh tahun, dan selama itu aku belum pernah mencaci atau memakinya, kecuali sekali saja, dan waktu itu akulah yang zhalim.”

Betapa berbahagianya suami yang memiliki istri yang sholehah yang tumbuh dalam keimanan dan mengetahui hak suaminya dan rumah tangganya serta anak-anaknya. Inilah diantara kisah orang dahulu yang sholeh dan dari merekalah hendaknya kita mencontoh.

Ketahuilah diantara kewajiban istri adalah mendidik anak-anaknya dan memperhatikan mereka. Al Quran al Karim telah memberi pelajarannya ketika mengkaitkan seorang ibu dengan putra-putrinya dan perawatannya semenjak si anak dilahirkan, Allah swt. berfirman: “Para ibu hendaklah menyusukan anak-anaknya selama dua tahun penuh, yaitu bagi yang ingin menyempurnakan penyusuan.” (Al Baqarah: 233). Hal ini disebabkan keutamaan para ibu dari yang selain mereka karena mereka telah melahirkan si anak. Maka wanita yang menyerahkan perawatan dan pendidikan anak-anaknya kepada pembantu atau dibiarkan di jalanan sesungguhnya telah melemparkan masa depan mereka dan masa depan putra-putri mereka ke dalam jurang neraka. Wallahu a’lam.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *