Konsep Islam Tentang Manusia (seri 20)

 

            Manusia bukanlah Tuhan, tidak mungkin menjadi Tuhan dan tidak pernah akan menjadi Tuhan. Bagaimana menjadi Tuhan? Jika ia hadir di muka bumi sebagai sebuah makhluk yang lemah berupa bayi yang tak berdaya, setelah sebelumnya ia merupakan setitik air mani yang hina, jikalau bukan karena kasih saying kedua orang tuanya, tentulah ia bisa fana dan binasa, karena ia bahkan tidak bisa mengurus dirinya sendiri apatah lagi menguasai orang lain. Apakah seorang makhluk yang lemah seperti ini merupakan Tuhan? Sungguh itu merupakan impian yang terlalu muluk, bagaimana pula ia mungkin menjadi Tuhan apabila ia lemah dan dapat diserang oleh berbagai macam penyakit, dari ujung kepala hingga ujung kakinya ada ratusan bahkan ribuan penyakit yang bisa menyerang jasad dan psikologis manusia yang realitanya lemah tak berdaya. Belum lagi kematian yang menghentikan seluruh angan-angan seorang anak manusia.

Allah SWT berfirman:

Bukankah telah datang atas manusia satu waktu dari masa, sedang dia ketika itu belum merupakan sesuatu yang dapat disebut?

(Q.S. Al Insaan: 1)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari setetes mani yang bercampur yang Kami hendak mengujinya, karena itu Kami jadikan dia mendengar dan melihat.

(Q.S. Al Insaan: 2)

Sesungguhnya akal yang waras yang masih berpikir secara logis dan masih berada pada fitrahnya pastilah menyatakan bahwa dirinya adalah makhluk yang lemah yang bergantung sepenuhnya kepada Tuhannya. Sedangkan akal yang rusak yang dipenuhi dengan angan-angan dan khayal, yang dihanyutkan oleh hawa nafsu dan bisikan syetan itulah yang merasa bahwa dirinya bisa menjadi Tuhan. Padahal ia hanya perasaan yang ghurur yang tidak memiliki realitas di alam nyata, ia tidak lebih dari persepsi yang rusak dari seorang hamba yang rusak hatinya dan akalnya.

Dari renungan-renungan ini kita menyadari dengan sebenar-benarnya bahwa manusia itu adalah hamba Tuhan. Ia ketika memohon dan berdoa serta mencari penguasa atas dirinya, tidaklah hal ini didasarkan pada angan-angannya melainkan ini merupakan fitrah yang telah Allah ciptakan atas dirinya.  Dan Allah hendak menguji hamba-Nya, apakah ia berusaha mencari kebenaran ilahi itu sesuai fitrahnya atau ia menyembah syetan dan hawa nafsurnya.

Para pengikut GZB sesungguhnya adalah orang-orang yang tertipu oleh dirinya sendiri, oleh hawa nafsunya dan oleh syetan maka mereka buta dan merasa dapat melampaui kemampuan dan hakikat dirinya sendiri yang dhoif dan tak berdaya. Potensi manusia memang dapat dikembangkan dengan training dan pelajaran, namun cara training dan belajar itu mestilah jauh dari nilai-nilai kemusyrikan, takhayul, sihir, dan lain sebagainya.

Allah SWT berfirman:

Maka hendaklah manusia memperhatikan dari apakah dia diciptakan?

(Q.S. Ath-Thoriq: 9)

maka sekali-kali tidak ada bagi manusia itu suatu kekuatanpun dan tidak  seorang penolong.

(Q.S. Ath-Thoriq: 10)

Binasalah manusia; alangkah amat sangat kekafirannya?

(Q.S. Abasa: 17)

Dan pengembangan potensi manusia itu bukanlah berarti bahwa manusia dapat lepas dari takdir ilahi. Tidak ada suatupun yang dapat terjadi tanpa izin Allah SWT. Seseorang hanya bisa berusaha dan berdoa dan kemudian bertawakkal kepada Allah SWT. Tidaklah ada jaminan bahwa ia mesti menguasai segala sesuatu. Lihatlah dan renungkanlah tentang orang-orang yang belajar dengan kerja keras, belum tentu ia akan menguasai pelajaran, pun jika ia menguasai pelajaran itu tentu tidaklah berarti menguasainya secara seratus persen sempurna, melainkan pasti ada yang tidak dikuasainya. Inilah hakikat manusia, yang lemah dan tidak berdaya, tidak berkuasa atas sesuatu. Manusia memiliki keterbatasan dan tidak dapat menetapkan atau memastikan masa depan dirinya secara pasti, semuanya sesungguhnya bergantung kepada Allah Sang Maha Pencipta, kewajiban manusia hanyalah berusaha.

Allah SWT berfirman:

Dan kamu tidak dapat menghendaki kecuali apabila dikehendaki Allah,

 Tuhan semesta alam.

(Q.S. At Takwir: 29)

Hai manusia, apakah yang telah memperdayakan kamu

terhadap Tuhanmu Yang Maha Pemurah.

(Q.S. Al Infithaar: 6)

Hai manusia, sesungguhnya kamu telah bekerja dengan sungguh-sungguh menuju Tuhanmu, maka pasti kamu akan menemui-Nya .

(Q.S. Al Insyiqaaq: 6)

Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia berada dalam susah payah.

(Q.S. Al Balad: 4)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *