Konsep Islam Tentang Tuhan (seri 19)

Al Islam yang jernih sebagaimana dibawa oleh para rasul dan anbiya memiliki konsep-konsepnya sendiri yang secara jelas menolak berbagai kepercayaan kelompok GZB ini.

Konsep Tuhan didalam Islam sangatlah jelas dan terang bahkan lebih terang dari sinar mentari di siang hari. Aqidah Islam selaras dengan fitrah insani yang bersih, sehingga semakin bersih jiwa seseorang, semakin dekat ia dengan telaga akidah Islami yang jernih.

Tuhan didalam Islam memiliki Dzat Yang Maha Agung dan Nama-Nama Yang Maha Mulia, Dialah Allah Yang Maha Suci dan Maha Tinggi, tidak menyatu dengan makhluk ataupun materi, Maha Tinggi Dia dari bersekutu dengan dzat yang rendah, hina yakni para makhluk ciptaan-Nya.[1] Sesungguhnya segala alam semesta beserta isinya merupakan makhluk-Nya yang hina di hadapan-Nya, yang tunduk kepada iradat-Nya, yang berjalan dibawah hukum-Nya dan aturan-Nya.

Sebagaimana termaktub dalam kitab Al Quran Al Karim:

Allah SWT berfirman:

Tidak ada seorangpun di langit dan di bumi,

kecuali akan datang kepada

Tuhan Yang Maha Pemurah

selaku seorang hamba.

(Maryam: 93).

 

Katakanlah: Dialah Allah Yang Maha Esa

Dialah Allah, yang kepada-Nya bergantung segala sesuatu

Dia tidaklah melahirkan dan tidak pula dilahirkan

Dan tiada sesuatu apapun yang menyamai diri-Nya.

(Al Quran: Al Ikhlas: 1-4)

 

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia,

Yang Mengetahui yang ghaib dan yang nyata,

Dia-lah Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang.

Dialah Allah Yang tiada Tuhan selain Dia,

Raja, Yang Maha Suci, Yang Maha Sejahtera,

Yang Mengaruniakan Keamanan,

Yang Maha Memelihara,

Yang Maha Perkasa,

Yang Maha Kuasa,

Yang Memiliki segala Keagungan,

Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan.

Dialah Allah Yang Menciptakan,

Yang Mengadakan, Yang Membentuk Rupa,

Yang Mempunyai Asmaaul Husna.

Bertasbih kepadaNya apa yang di langit dan bumi.

Dan Dialah Yang Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.

(Al Quran: Al Hasyr: 22-24)

 

Maha Tinggi dan Maha Suci Dia Allah dari bersekutu dengan makhluk-Nya, bahkan para malaikat yang mulia pun tidak lebih dari derajat hamba yang hina di hadapan-Nya. Jikalau bukan karena Dia memuliakan mereka tentulah mereka terhina dihadapan-Nya.

 


[1] Al-Fawzan, Sholih bin Abdilaziz, I’anah al Mustafid bi Syarhi Kitabi al Tawhid, (Muassasah Risalah, 2002), bab Fadhl Tawhid, Juz 1 Hal. 61.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *