Kota Roma Peninggalan Kekaisaran Romawi Kuno: Sebuah Saksi pergulatan antara Kekristenan dan Paganisme

 

rome

Sumber: http://ww2.valdosta.edu/~mrfarinh/cities.html

Sejarah kota Roma memang dapat dikatakan sangat dramatis. Berada di kawasan Lazio dan menjadi ibukota dari Italia, kota Roma, yang saat ini ditinggali oleh 2,9 juta orang, menyimpan sejuta pergolakan sejarah antara paganisme Romawi kuno (agama penyembahan terhadap berhala) dan sebuah agama yang termasuk dalam lingkup agama samawi, yakni Kristen. Negara kota Vatikan dengan misa agung yang sering disiarkan beberapa stasiun televisi di Indonesia juga berada persis di pusat kota Roma. Dikelilingi oleh dinding setinggi ± 12 meter, dengan luas tidak lebih dari 0,44 kilometer persegi dan penduduk tidak lebih dari 900 orang, Vatikan merupakan negara-kota terkecil di dunia. Sejarah Vatikan bisa dikatakan merupakan bagian dari sejarah Roma yang tidak terpisahkan.

St. Peter's Basilica
St. Peter’s Basilica.

Sumber: http://culturevie.info/tag-vatican.html?s=new_www.ecoleaberdeen.fr

Sejarah awal tersebarnya Kristen di Roma sendiri dimulai dari kegiatan misionaris Paulus. Paulus awal mulanya menyebarkan ajaran kristen di Asia Kecil (kawasan Turki dan sekitarnya di masa kini) dan Yunani yang masa itu berada dibawah Romawi, sebelum akhirnya menyebarkannya ke kota Roma. Di masa itu penganut Kristen awal, yang mayoritas kaum miskin dan budak, menghadapi banyak ancaman penyiksaan dan bahkan kematian oleh  Kaisar dan petinggi Romawi yang masih pagan. Hanya setelah Kaisar Romawi Konstantin Agung (272M-337M) berkuasa dari tahun 306-337M, agama Kristen memasuki masa keemasannya. Konstantin secara resmi melegalkan ritual Kristen di publik pada 313M namun ia tidak pula melarang paganisme dan sejak itu gereja-geraja dibangun diseluruh pelosok negeri Romawi. Terlepas dari sejarawan yang meragukan kekristenan Konstantin dan alasan mengapa ia begitu membela agama Kristen yang baru ini, diketahui bahwa Konstantin dibaptis sesaat sebelum meninggalnya dan ibunya Helena merupakan seorang Kristen. Sejarawan pun tidak dapat memastikan apa model Kristen yang dianut oleh Konstantin dan ibunya. Sebagai catatan bahwa model agama Kristen pada masa awal berbeda dengan Kristen setelah zaman Konsili Nicaea. Konsili Nicaea sendiri dilangsungkan pada tahun 325M untuk memutuskan kepercayaan orthodox kristen bagi semua gereja. Pada masa itu terjadi perselisihan didalam Gereja Kristen Alexandria antara Pendeta Arian (250-336M) dari Alexandria Mesir yang anti-trinitas (ia meyakini bahwa Yesus adalah anak Tuhan, diciptakan tidak dilahirkan dari Tuhan Bapa, namun terpisah dari Bapa dan juga tunduk pada Bapa, dan ia menolak gagasan Yesus sebagai Tuhan Anak) dan Uskup Alexandre I (wafat 326/328M) dan Pendeta Athanasius (296-373M) juga dari Alexandria Mesir (keduanya meyakini bahwa Yesus adalah dilahirkan tidak diciptakan, Anak Tuhan dari zat Bapa, menyatu dengan Bapa dan juga sebagai Tuhan). Konsili Nicaea sendiri akhirnya mengokohkan pandangan yang terakhir ini dan menegaskan juga bahwa Tuhan Anak dan Bapa selalu abadi bersama-sama dan tidak ada zaman ketika Anak tidak bersama bapa, dan menolak pandangan bahwa Anak dapat binasa atau berubah, melainkan selalu sempurna.

Nicea

 

Sumber: Wikipedia

Menjelang akhir masa kekuasaannya, Konstantin diketahui memerintahkan penghancuran beberapa kuil-kuil didalam wilayah kekuasaannya. Adalah putranya Konstantius II yang membuat hukum anti-Pagan yang tidak hanya menutup seluruh kuil  paganisme bahkan melarang ritual Pagan dengan ancaman hukuman mati. Persekusi terhadap pagan sempat berkurang dari tahun 361-375M dibawah Kaisar Jovian, Valentinian I, dan Valens, namun mencuat kembali setelah itu dibawah kepemimpinan Uskup Ambrose dari Milan. Kaisar Theodosius bahkan menerbitkan “dekrit Theodosian” yang menyatakan perang terhadap paganisme, yang kembali melanjutkan persekusi dan pelarangan terhadap ibadah di kuil-kuil pagan.

 

raphael1

Sumber: roberthorvat30.wordpress.com

Sekilas sejarah kekaisaran Romawi ini mengisahkan kepada kita pentingnya arti kekuasaan bagi penyebaran agama. Kristen yang datang dengan terinjak-injak di dalam kekaisaran Romawi akhirnya mencuat dan unggul sebagai agama kekaisaran dan bahkan berbalik melakukan persekusi yang lebih sistematis terhadap kaum pagan.  Relasi kekuasaan terhadap agama didalam gereja kristen juga berpengaruh besar dalam membangun standar orthodoxy. Jikalau ajaran Arian yang diunggulkan dalam sidang Konsili Nicaea tentulah wajah Kristen sangatlah berbeda pada masa kini dan mungkin ajaran kristen akan lebih dekat dengan ajaran Islam yang berlandaskan Tauhid atau Keesaan Allah swt. Namun sejarah konsili mencatat bahwa dari pekiraan sekitar 250 hingga 318 hadirin pada sidang konsili tersebut, hanya dua orang yang mendukung Arian. Dua orang ini bersama Arian akhirnya diasingkan ke Illyria yang terletak dikawasan Balkan sekarang.

h_get_started

Perkembangan kristen yang kemudian menjelma menjadi sebuah agama kekaisaran dan mengawali persekusi terhadap kaum pagan tidak berarti bahwa unsur-unsur ajaran Kristen terlepas dari pengaruh pagan. Sebaliknya Kristen telah banyak mengalah dan mengadopsi aspek-aspek ajaran pagan didalam pokok ajaran Kristen. Trinitas sendiri adalah contoh paling nyata dari akomodasi Kristen terhadap ajaran pagan. Trinitas dewa-dewi sangat mudah dijumpai di kepercayaan Mesir kuno, India, Jepang, Babilonia, dan lainnya. Ditambah pula dengan berbagai perayaan pagan yang diadopsi Kristen seperti Natal pada 25 December (yang diyakini sebagai hari lahir dewa Mithra yang disembah militer Romawi), Hari Paskah (Easter), Hari Helloween dan lainnya. Akomodasi yang luar biasa terhadap ajaran paganisme ini mungkin dapat dipahami sebagai faktor yang mendorong kesuksesan Kristen memikat kekaisaran Romawi dimulai dari Ratu Helena dan Kaisar Konstantin. Meski kaum pagan romawi membenci Kristen, namun aksi persekusi terhadap kaum Kristen tidaklah sebesar dan sistematis sebagaimana sejarah upaya Romawi Kristen untuk melenyapkan paganisme dan melakukan pembantaian terhadap kaum pagan.

 

 

trevifountain

Sumber: trevifountain.net

 

Kembali ke kota Roma dengan berbagai peninggalan monumen sejarahnya, saksi pergulatan paganisme dan Christiniaty dalam kurun sejarah panjang kota ini mungkin terilustrasikan dengan sangat sempurna oleh monumen Trevi Fountain (atau Air Mancur Trevi). Dahulunya air mancur ini bukan dimaksudkan sebagai air mancur melainkan diawali untuk membuat sebuah saluran air yang dapat menghantarkan air ke Pantheon dan pemandian air panasnya. Rencana pembangunan saluran air (aquaduct) yang terletak di tengah kota Roma ini awal mulanya diperintahkan oleh Jendral Agrippa (64SM-12M) yang merupakan menantu Kaisar Romawi Augustus. Menurut legenda, saluran air ini awal mulanya dinamai dengan ‘Aqua Virgo’ karena seorang gadis memabntu pasukan Romawi untuk mencari sumber air bagi saluran air ini. Lokasi saluran air yang terletak diantara tiga jalan (Trivia) membuat saluran ini sekarang disebut dengan Trevi Fountain (Fontana di Trevi).

 

 

330px-Pope_Clement_XII,_portrait

Pope Clement XII. Sumber: wikipedia.

Saluran air ini sendiri telah dirombak berulan kali pada Abad Pertengahan untuk perbaikan sebagai akibat serangan dari musuh-musuh Romawi. Uniknya, perbaikan-perbaikan yang dilaksanakan terhadap Trevi Fountain selalu dipimpin oleh Paus-Paus dengan menugaskan kepada para arsitek-arsitek Itali. Paus Nicholas V sekitar 1400M menugaskan Diovan Battista Alberti untuk memperbaikinya agar dapat mengalirkan air lagi dari Sungai Tiber sebagaimana telah bermanfaat bagi kota Roma selama tiga abad. Di tahun 1625 Paus Urban VIII menugaskan Gian Lorenzo Bernini untuk merekonstruksi ulang dengan desain baru. Namun karena kekurangan dana, proyek ini akhirnya terhenti. Baru setelah 90 tahun kemudian akhirnya, Paus Clement XII memulai sayembara untuk menentukan seniman (artist) yang ditugaskan membangun kali ini sebagai sebuah fountain atau air mancur. Adalah Niccolo Salvi yang mendesain ulang air mancur itu. Meski kredit terbesar diberikan kepada Niccolo namun beberapa seniman yang datang kemudian-lah yang menyempurnakan hingga seperti saat ini termasuk dengan konstruksi patung dewa Neptunus, yang merupakan dewa laut dalam agama mitos Romawi. Dalam mitologi Yunani, ia dikenal sebagai dewa Poseidon.

 

Ornamen Trevi Fountain juga dilengkapi oleh patung dua kuda yang melambangkan air laut yang bergolak dan air tawar yang tenang. Disisi kiri dan kanan patung Neptunus terdapat dua wanita yang melambangkan kesuburan dan kesehatan untuk melambangkan manfaat meminum air segar dari tugu ini. Juga dua ukiran diatas patung neptunus yang melambangkan penugasan Agrippa untuk membuat air mancur tersebut dan bantuan gadis muda untuk mencari sumber mata airnya. Dilegendakan pula menurut takhayul (mitos) bahwa siapapun yang melemparkan koin kedalam air mancur itu akan ditakdirkan kembali berkunjung ke Roma.

 

Sejarah pergulatan Kristen dan Paganisme dalam kekaisaran Romawi, dan sejarah konstruksi Trevi fountain dengan simbol patung pagan, dewa Neptunus, yang dilaksanakan oleh para paus/ uskup agung sedikit banyak mengisahkan kepada kita bagaimana pergulatan antara dua musuh bebuyutan (kristen dan paganisme) dan juga ‘melunaknya’ kristen terhadap simbol-simbol paganisme. Tidaklah mengherankan bahwa beberapa penulis barat dengan yakin menyatakan bahwa selama 1500 tahun belakangan agama Kristen telah berubah dari monotheistik menjadi politheistik.

 

Ady C. Effendy, MA

 

 

One thought on “Kota Roma Peninggalan Kekaisaran Romawi Kuno: Sebuah Saksi pergulatan antara Kekristenan dan Paganisme

  1. I must say it was hard to find your website
    in search results. You write great articles but you should rank your website
    higher in search engines. If you don’t know 2017
    seo techniues search on youtube: how to rank a website
    Marcel’s way

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *