Memilih Non-Muslim Bersih  atau Muslim Koruptor ?   

Umat Islam Indonesia akhir-akhir ini sedang menghadapi fenomena yang sangat-sangat aneh dan mengkhawatirkan. Mereka disuguhi oleh pilihan pemimpin yang bisa dikatakan gado-gado, dalam artian seorang cagub yang muslim ditemani oleh cawagub non-muslim. Banyak diantara kaum muslimin yang melakukan pembenaran terhadap pemilihan cagub cawagub gabungan ini dengan dalih dan alasan, “Mendingan Memilih Pemimpin Non-Muslim yang bersih dari korupsi daripada muslim tetapi korup.”

0

Namun benarkah alasan ini jika ditimbang dari dalil syara’ dan juga nalar logis ?

Sebagai seorang muslim yang beriman kepada Allah swt. maka tentulah tuntunan Al Quran dan As Sunnah menjadi sebuah kewajiban yang mutlak diikuti dalam hal ini.

 

Allah swt. Berfirman :

“Janganlah orang-orang mu’min mengambil orang-orang kafir menjadi wali  dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah, kecuali karena  memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. Dan Allah memperingatkan kamu terhadap diri -Nya. Dan hanya kepada Allah kembali .” (Q.S.Ali Imran:28)

 

“Orang-orang yang mengambil orang-orang kafir menjadi teman-teman penolong dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Apakah mereka mencari kekuatan di sisi orang kafir itu ? Maka sesungguhnya semua kekuatan kepunyaan Allah.” (Q.S. An Nisaa: 139)

 

Menerangkan surat Ali Imran ayat 28 diatas, Mufassir Ibn Katsir menjelaskan bahwa :

Allah swt. melarang hamba-hamba-Nya yang muslim untuk mengangkat wali / pemimpin orang-orang yang kafir dan memberikan kecintaan dan kepercayaan (mawaddah) kepada mereka dengan meninggalkan orang-orang mukmin (orang Islam). Dan Allah st. berfirman: “Barang siapa berbuat demikian, niscaya lepaslah ia dari pertolongan Allah.” yakni menurut Ibn Katsir : siapa yang melakukan apa yang telah dilarang oleh Allah ini maka sesungguhnya dia telah berlepas diri dari perlindungan Allah swt.

 

Allah swt. Berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali  dengan meninggalkan orang-orang mu’min. Inginkah kamu mengadakan alasan yang nyata bagi Allah ?” (Q.S.An Nisaa: 144)

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin; sebahagian mereka adalah pemimpin bagi sebahagian yang lain. Barangsiapa diantara kamu mengambil mereka menjadi pemimpin, maka sesungguhnya orang itu termasuk golongan mereka. Sesungguhnya Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. (Q.S.Al Maidah: 51)

 

“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka , karena rasa kasih sayang; padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu, mereka mengusir Rasul dan  kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu. Jika kamu benar-benar keluar untuk berjihad di jalan-Ku dan mencari keridhaan-Ku . Kamu memberitahukan secara rahasia  kepada mereka, karena rasa kasih sayang. Aku lebih mengetahui apa yang kamu sembunyikan dan apa yang kamu nyatakan. Dan barangsiapa di antara kamu yang melakukannya, maka sesungguhnya dia telah tersesat dari jalan yang lurus. (Q.S.AlMumtahanah : 1)

 

Menafsirkan tentang bagian ayat selanjutnya : “kecuali karena  memelihara diri dari sesuatu yang ditakuti dari mereka. “ Ibn Katsir menjelaskan bahwa : Yakni maknanya adalah kecuali bagi orang-orang di suatu masa dan negeri dimana mereka takut akan kejahatan yang bisa ditimpakan kepada mereka, maka dibolehkan bagi orang-orang mukmin untuk berbohong dengan menampak zahirnya (luarnya) tapi tidak dengan membenarkan dalam batin dan niat mereka.

 

Sebagaimana riwayat dari Imam Al Bukhari dari Abu Darda ra. yang mengabarkan: “Sesungguhnya kami bermanis di hadapan suatu kaum sedangkan hati kami melaknat mereka.”

 

Imam Ats-Saury menjelaskan perkataan Imam Ibn Abbas ra. Bahwa : “taqiyah atau berbohong itu tidaklah dengan amal perbuatan melainkan hanya dengan lisan. Sebagaimana firman Allah swt. : “Barangsiapa yang kafir kepada Allah sesudah dia beriman , kecuali orang yang dipaksa kafir padahal hatinya tetap tenang dalam beriman , akan tetapi orang yang melapangkan dadanya untuk kekafiran, maka kemurkaan Allah menimpanya dan baginya azab yang besar.” (An Nahl : 106)

 

Dari nukilan penjelasan Imam Ibn Katsir (lihat juz 2 hal 30) diatas sudah jelas bahwa pemimpin yang non-Muslim haram untuk dipilih dan hanya di negeri dimana umat Islam terjajah dan khawatir akan keselamatan diri mereka maka boleh mereka berbohong dengan lisan mereka tidak dengan hati dan batin mereka untuk mengakui kepemimpinan non-Muslim.

 

Lantas bagaimana dengan memilih pemimpin yang wakilnya non-Muslim?

Alasan-alasan yang dikemukakan oleh orang-orang yang mengatakan mendingan non-muslim tidak korup ketimbang muslim tapi korup tidaklah logis. Konon, di Indonesia kabarnya sedang digembar gemborkan wacana “Lee kwan yeu atau Muslim Koruptor “, yakni mana yang lebih baik memilih lee kwan yeu yang non-Muslim tapi sejahtera seperti singapura atau Muslim Koruptor yang muslim tapi korupsi? Upaya penyebaran wacana ini sudah dilakukan dan hasilnya sangat mengkhawatirkan, banyak orang yang mengaku muslim ternyata menelan mentah-mentah hal ini.

 

Namun benarkah pemimpin yang non-muslim akan bebas dari berbuat kerusakan dan korupsi ketimbang ornag-orang muslim.

Sesungguhnya seburuk-buruk orang muslim, mereka memiliki kesempatan untuk berubah dan memperbaiki diri dan dengannya bisa menggapai surga, sedangkan orang-orang non-muslim karena sudah dasarnya tidak beriman kepada Allah swt. maka tidak akan dapat memperoleh balasan pahala di Akhirat. Kesetiaan orang-orang non-muslim dengan akidah mereka juga akan mengancam keberadaan orang-orang Muslim dan agama mereka.

Mengenai bahaya memilih pemimpin non-muslim salah satunya dapat disadari dengan memahami kabar berikut: dikabarkan bahwa seorang muslim dari Surabaya jawa timur yang menikahi seorang muslimah singapura semenjak bertahun-tahun sampai saat ini tidak dapat memperoleh kewarganegaraan singapura walaupun telah tinggal lama di singapura. Alasannya Cuma satu karena didalam curriculum vitae (CV) muslim jawa timur tersebut disebutkan bahwa dia pernah belajar di lembaga islam yang dikenal dengan nama PESANTREN. Akomodasi apartemen-apartemen di singapura pun didesain selalu menempatkan apartemen muslim dijepit dan dikelilingi oleh orang-orang non-muslim singapura.

 

Demikianlah kebencian orang-orang non-muslim terhadap orang-orang muslim dan ketakutan mereka, namun ironis banyak orang-orang muslim yang lulus dari pesantren bahkan dipanggil dengan kiai dan ustad tidak perduli dengan hal ini bahkan dengan penuh percaya diri melanggar salah satu perintah Allah swt. yang paling asasi dalam al Quran yakni tidak bersandar pada pemimpin non-muslim.

 

Wacana yang membandingkan lee kwan yeu dan Muslim Koruptor pun tidaklah logis dan sangat membodohi orang-orang muslim.

 

Figure lee kwan yeu yang dipasang seolah-oleh mengesankan bahwa semua non-muslim itu akan memimpin seperti lee kwan yeu dan membawa kesejahteraan bagi masyarakat padahal kenyataan tidaklah demikian. Berapa banyak negara-negara gagal (failed states) yang para pemimpinnya adalah orang-orang non muslim dan berapa banyak pula penipuan keuangan besar-besaran (fraud) yang dilakukan oleh non-muslim. Apakah orang-orang muslim mengira bahwa semua negara dengan pemimpin Kristen itu pasti membawa negaranya sukses dan jaya seperti negeri-negeri Eropa Barat dan Amerika  di masa lalu? mereka lupa bahwa banyak negara-negara gagal (failed state) yang juga mayoritas warganya Kristen dan pemimpinnya Kristen, seperti Zimbabwe, angola, congo, Eritrea, ivory coast, dan masih banyak lagi.

 

Begitu pula dengan penipuan keuangan, tidak tahukah orang-orang  muslim ini bahwa penipuan terbesar di dunia ini justru terjadi di negara-negara mayoritas Kristen seperti Amerika serikat dan dilakukan oleh orang-orang yang notabene Kristen atau yahudi. Skandal paling terkenal adalah skandal ponzy scheme (dgn kerugian 18 milyar dollar) oleh Bernard Madoff, seorang perencana keuangan yahudi, jangan lupa pula dengan skandal-skandal keuangan besar yang menimpa perusahaan besar di amerika, diantaranya Enron (dgn kerugian 78 milyar dollar), Lehman Brothers (dengan asset 600 milyar dollar), Cendant (dgn kerugian 19 milyar dollar), dan masih banyak lagi. Jangan lupa pula dengan Edi Tansil, buronan kelas kakap non muslim, yang lenyap dengan uang triliunan rupiah dari Indonesia.

 

Pun harus diingat bahwa krisis ekonomi dan pengangguran besar-besaran yang melanda AS dan mayoritas negara eropa barat sampai detik ini apalagi sebabnya kalau bukan system ekonomi non muslim yang ribawi dan ketidakamanahan pelaku ekonominya.

 

Lagipula adakah capres, dan cagub yang muslim atau non-muslim yang telah jelas-jelas terbukti korupsi dapat mencalonkan dirinya dalam suatu pemilihan ? tidakkah KPU dan KPUD telah memiliki fit n proper test yang tidak memungkinkan seorang koruptor menjadi calon dalam sebuah pemilihan ?

 

Dengan banyaknya fakta ini, sayang beribu sayang umat Islam Indonesia seringkali lalai. Orang-orang yang memilih pemimpin yang tidak amanah atau non-muslim adalah orang-orang yang pintar tetapi tidak cerdas!

 

Dari coretan singkat ini jelaslah bahwa kemajuan atau kemunduran sebuah bangsa adalah ditentukan oleh etos kerja dan amanah yang diemban oleh pemimpinnya dan rakyatnya, tidak terkecuali umat islam Indonesia. Sebagaimana firman-Nya:  “Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan  yang ada pada diri mereka sendiri.” (Ar Ra’d: 11)

 

Namun jangan sampai untuk merubah keadaan ini umat Islam Indonesia malah melanggar perintahnya yang lain yaitu untuk tidak memilih pemimpin yang tidak amanah dan non-muslim. Frustasi dengan keadaan jangan sampai menyesatkan umat islam dari jalan yang lurus. Wallahu a’lam bisshowab.

ACE, doha, Qatar, 12 July 2014 11:44AM (edit 27, July 2014)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *