Mewaspadai Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) – (seri 01)

Zaman modern dimana kita berada saat ini dipenuhi dengan berbagai macam intrik dan kepalsuan. Tidak hanya di bidang politik, sosial dan ekonomi, melainkan kepalsuan dan fitnah akhir zaman itu telah merasuk pula ke bidang yang paling asasi dalam kehidupan seorang muslim, yakni Aqidah mereka. Apabila di bidang ekonomi muncul gerakan-gerakan ataupun konsep ekonomi semacam kapitalisme, sosialisme, fasisme, dan lain sebagainya, maka di bidang ideologi keagamaan pun muncul berbagai macam agama-agama palsu, semacam Qodiyaniya, Komunitas Eden, Gerakan Zaman Baru, dan seterusnya.

Bicara tentang agama-agama palsu ini memang belakangan ini tengah marak kasus terkait Ahmadiya (Qodiyaniya) yang rupanya berhasil mencengkramkan kuku-kuku tajamnya ke bumi Indonesia yang mayoritas muslim dan aliran sesat ini berhasil merekrut orang-orang awam sebagai pengikut ajaran sesat mereka. Sekarang umat Islam Indonesia melalui MUI maupun ormas-ormas Islam bekerja keras menghapuskan agama palsu ini dari bumi Indonesia, dan ini merupakan suatu hal yang harus kita upayakan segera.

Namun ada satu lagi gerakan kepercayaan lain yang rupanya diam-diam berhasil masuk ke dalam bumi Indonesia namun celakanya belum banyak kaum muslimin Indonesia yang menyadari penetrasi-penetrasi halus kelompok ini. Kelompok ini adalah kelompok yang dikenal di Barat dengan nama Gerakan Zaman Baru (New Age Movement), sebuah gerakan sosial keagamaan yang dalam penyebarannya banyak bersembunyi dibalik sains dan psikologi-semu, yang ujung-ujungnya berupaya menegaskan ataupun menyebarkan keyakinan mereka bahwa manusia merupakan titik sentral dari alam semesta ini.

Para pemeluk agama Kristiani tampaknya lebih awas terhadap gerak-gerik gerakan kepercayaan ini, setidaknya dengan diterbitkannya sebuah buku mengenai GZB oleh seorang pemeluk Kristiani, sedangkan umat Islam tampaknya masih lengah hingga saat ini dengan maneuver gerakan ini yang sudah semakin meluas. Mungkin hal ini dipengaruhi juga oleh pengalaman umat Kristiani dengan gerakan ini di Barat, sehingga mereka sadar betul dengan bahaya gerakan ini. Jikalau umat Kristiani yang jumlahnya sekitar 10 persen di Indonesia saja begitu menyadari maneuver mereka, maka tentunya umat Islam yang merupakan mayoritas di tanah air seharusnya pula menyadari ekspansi dari gerakan ini, karena perkembangan kelompok ini di tanah air pastilah akan menyasar umat Islam terlebih dahulu sebagai mayoritas sebelum menyasar umat Kristiani.

Sekitar 20 tahun yang lalu, mungkin tidak seorangpun diantara kita yang pernah mengenal ataupun mendengar berbagai macam training, seminar maupun buku yang belakangan ini marak di Tanah Air dengan nama-nama yang terdengar ‘wah’ dan hebat, yang menjanjikan berbagai perubahan drastis menuju kesuksesan bagi siapapun yang bersedia berinvestasi dengan mengikuti maupun membacanya. Namun, pada tahun-tahun belakangan ini, berbagai label maupun istilah-istilah seperti pelatihan body-mind-soul for success, forgiveness teraphy, self healing, pelatihan motivasi Neurolinguistic Programing (NLP), Revolusi IQ/EQ/SQ, hypnoparenting dan hypnotherapy[1], dan lain sebagainya seakan membanjiri tanah air, seraya menciptakan pula superstar-superstar baru dalam bidang training motivasi dan peningkatan potensi manusia.

Salah satu diantara training-training motivasi yang sangat terkenal di kalangan umat Islam Tanah Air adalah training kecerdasan emosi dan spiritual yang telah menyebar ke seluruh penjuru tanah air bahkan ke beberapa negara tetangga Indonesia. Penulis sendiri mengingat bagaimana training kecerdasan emosional dan spiritual ini dikatakan salah seorang sahabat berprofesi pengajar TPA (Taman Pengajian Al Quran) yang berkesempatan mengikuti training gratisnya, bahwa training tersebut begitu menggugah, menarik dan mengharukan seraya menganjurkan agar penulis juga ikut mengikuti training ini yang sebenarnya terhitung cukup mahal bila harus merogoh kocek sendiri. Penulis sendiri berpandangan bahwa tidak ada urgensinya harus mengikuti training kecerdasan emosional dan spiritual, yang dikatakan sahabat tersebut, banyak menggali masalah-masalah keislaman, karena toh penulis telah mempelajari dasar-dasar keislaman ini dari pengajian ataupun perguruan tinggi, sehingga tentu tidak wajib mengikuti training yang beroleh gembar-gembor dari banyak muslim di tanah air. Namun ditengah-tengah popularitas luar biasa yang dinikmati oleh training kecerdasan emosional dan spiritual tersebut tiba-tiba muncul kontroversi yang cukup mengejutkan umat Islam Indonesia yakni bahwa kecerdasan emosional dan spiritual tersebut difatwakan sesat oleh salah seorang Mufti Malaysia karena dipandang bertentangan dengan ajaran Islam!!! Semua orang – termasuk penulis sendiri – lantas terkejut dan heran mengapa Mufti Malaysia itu sampai berani memfatwakan sesat kepada training kecerdasan emosional dan spiritual tersebut padahal training ini begitu banyak mengambil kutipan ayat-ayat Al Quran, Hadis Nabi, dan lain sebagainya, yang jelas tampak sangat Islami, bahkan training kecerdasan emosional dan spiritual ini beroleh sertifikat halal oleh MUI. Apakah dalam hal ini MUI yang kecolongan ataukah Mufti Malaysia itu yang ‘asal-asalan’ memberi fatwa? Terlepas dari kontroversi sesat tidaknya training kecerdasan emosional dan spiritual ini, yang sedang diteliti kembali oleh ulama-ulama Indonesia, kasus ini setidaknya telah mendorong penulis untuk mencari tahu lebih banyak tentang akar kontroversi dari berbagai training-training hebat ini yang dikatakan berasal dari Gerakan Zaman Baru (New Age Movement) yang memiliki kaitan dengan organisasi Masyarakat Theosophy, yang tidak lain berakar dari Freemasonry, sebuah organisasi pemuja setan se-dunia.

Dari tampilan luar, memang sepertinya training-training motivasional yang ditawarkan tidaklah bertentangan dengan ajaran Islam, namun tentunya training-training tersebut, sebagai sebuah terapan praktis, mestilah memiliki dasar-dasar pemikiran atau landasan filosofis ideologis yang menopangnya. Nah, landasan filosofis ideologis inilah yang tampaknya sangat berlawanan dengan ajaran Islam. Dalam kesempatan ini, penulis dalam tulisan ini tidak berniat melakukan penghakiman secara langsung terhadap training dan workshop yang ada, melainkan tujuan dari penulisan ini hanya untuk menjelaskan apa sebenarnya hakikat dari Gerakan Zaman Baru tersebut, sejarah perkembangannya, pilar-pilar kepercayaannya serta bagaimanakah wujud dan pola aktivitas yang dilakukan kelompok ini. Adalah penelitian dari ulama Islam Indonesia tentang seberapa jauh penerapan ajaran-ajaran GZB didalam praktek-praktek training dan workshop tersebut yang menjadi sangat penting guna menilai halal tidaknya bagi umat Islam Indonesia untuk mengikuti berbagai macam training dan workshop tersebut. Jikalau terbukti jelas bahwa training dan workshop tersebut pada tataran praktis memang menerapkan ideologi dan ajaran GZB maka sudah selayaknya berbagai training dan workshop yang menerapkan ajaran sesat dilarang.

(bersambung ke artikel 2 …)


[1] Van Tiel, Julia Maria (Dr.), Merebaknya New Age Movement, republika.co.id, (Jakarta, 21 Januari 2011), link: http://republika.co.id:8080/koran/0/127627/Merebaknya_New_Age_Movement.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *