Mutiara Iman

tawakkal alallah

 

“Pertanda Bergantungnya seorang hamba kepada amalnya adalah kurangnya pengharapan ketika tergelincir”

Janganlah seorang hamba itu, dalam perjalanannya mencari ridho Allah dan balasan-Nya, bergantung pada amal perbuatannya yang sesungguhnya diperbuatnya karena taufiq dan hidayah Allah sendiri, seperti sholat, shoum, shodaqah, maupun kebajikan-kebajikan lainnya, melainkan hendaklah ia menyandarkan diri pada keutamaan dan kemurahan-Nya.

Bukankah Rasulullah saw. Telah bersabda:

((لن يدخل أحدكم الجنة عملُه))، قالوا: ولا أنت يا رسول الله؟ ((ولا أنا إلا أن يتغمدني الله برحمته))

Tiada sekalipun ada seseorang diantara kalian yang akan masuk ke dalam surga disebabkan karena amalnya, Sahabat bertanya: engkaupun tidak ya Rasulullah? Saya pun tidak (akan masuk surga karena amal), namun Allah telah mencurahkan rahmat-Nya kepadaku.

Maka dari itu sepantasnya-lah bahwa kita mengejar ridho Allah, dengan menggantungkannya pada keutamaan, keampunan dan kemurahan-Nya, bukan pada upah atau pahala atas ibadah yang sesungguhnya kita kerjakan atas taufiq (panduan) dan hidayah (arahan)-Nya.

Tanda paling jelas atas ketergantungan kita terhadap amal ibadah kita dan bukan pada keutamaan (fadhl)-Nya adalah sedikitnya pengharapan kita akan ampunan-Nya ketika kita tergelincir dalam berbuat dosa dan kesalahan.

Ini artinya bahwa ketika kita berupaya menggapai kemurahan dan pemberian-Nya, kita berbuat seakan kita adalah pedagang yang bersandar pada modal kita, yaitu amal perbuatan yang kita kerjakan, dan ketika amal perbuatan itu berkurang sementara dosa kita bertambah, ketika itu sirnalah pengharapan kita kepada-Nya.

Hal ini menunjukkan bahwa anda menyandarkan harapan anda kepada-Nya diatas amal perbuatan anda dan bukan menyandarkan harapan (roja’) anda kepada keutamaan Allah dan kemurahan dari-Nya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *