Nabi-Nabi Palsu: Antara Sejarah dan Realita Gerakan Zaman Baru

 

musailamah

Mencuatnya beragam gerakan ataupun agama baru dengan nabi-nabi palsu yang merambah tanah air belakangan ini merupakan fenomena yang bukan baru lagi. Sejarah awal Islam mencatat bagaimana Musailamah al Kazzaab (abad 7M) dari Bani Hanifah daerah Yamamah yang murtad dari Islam dan mengklaim sebagai utusan Allah. Dikenal sebagai seorang ahli sihir, ajaran Musailamah meniru sebagian ajaran Islam, seperti melarang makan babi dan khamr, namun mengabungkannya dengan ‘karangan’nya sendiri yakni hanya mewajibkan tiga kali sholat menghadap ke arah manapun, tidak berkhitan/bersunat, dan berpuasa Ramadan hanya di malam hari. Tidak hanya Musailamah ini, seorang pembesar suku dari Bani Asad bin Khuzaemah bernama Thulaihah bin Khuwailid bin Naufal al-Asadi juga tidak mau kalah mengklaim kenabian setahun setelah ia masuk Islam. Setelah wafatnya Rasulullah saw muncul wabah kemurtadan di jazirah Arab dan mendorong seorang wanita bernama Sajah binti al-Harits bin Suwaid dari Bani Tamim untuk turut mengaku kenabian mengikuti Musailamah dan Thulaihah. Sajah sendiri akhirnya menikah dengan Musailamah dan setuju mengakuinya sebagai nabi.

Adalah Khalid bin Walid ra sebagai panglima dalam Perang Yamamah (11 Hijriah) yang berhasil melumpukan pasukan Musailamah dan membunuh nabi palsu ini, sementara setelah kematiannya Sajah akhirnya mengikrarkan keislamannya. Thulaihah sendiri pada awalnya telah bersiap menyerang Madinah dalam perang Riddah namun dihadang oleh pasukan muslimin yang dipimpin Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin Ubaidillah dan Zubair bin Awwam ra. Mereka akhirnya dapat mengalahkan pasukan Thulaihah setelah dikirimnya bala bantuan dari Abu Bakar ra.

Thulaihah kemudian melarikan diri dan kembali menghadapi perang di tempat bernama Buzaka melawan pasukan Khalid bin Walid yang berhasil mengalahkannya. Thulaihah kembali melarikan diri ke Suriah dan akhirnya di kemudian hari bertaubat dan masuk Islam ketika Suriah ditaklukkan. Keislamannya menjadi baik dan ia bahkan turut berperang bersama kaum muslimin melawan Persia dan mati sebagai syahid dalam Perang Nahawand.

Dari kisah nabi palsu diatas dapat diketahui bahwa sebagian nabi palsu ini dapat kembali memperoleh hidayah setelah menyadari kesalahannya. Karenanya pula nabi-nabi palsu sekarang yang perlu dididik dan didakwahi untuk kembali ke jalan yang benar. Kisah Musailamah al-Kazzab menjadi pelajaran tersendiri karena menemui ajalnya sebagai seorang pendusta dan namanya dikenang selamanya sebagai al-kazzab. Ajaran Musailamah Al-Kazzab yang mencampurkan antara ajaran yang berasal dari Islam dan ajaran ‘karangan’nya sendiri pun dapat dijumpai dalam fenomena nabi-nabi palsu yang ada pada era kontemporer saat ini semacam Mussadeq Gafatar, Lia Eden Salamullah, Sri Hartatik Pekalongan dan semacamnya. Namun fitur baru yang mungkin unik pada ajaran nabi-nabi palsu ini adalah upayanya menggabungkan dari ajaran agama samawi dan agama-agama timur yang ada dan membuat sebuah ‘cover baru’ untuk isi yang lama dengan tujuan memberi solusi penenang dari kecemasan dan kegalauan akan problematika dunia zaman sekarang. Lia Eden misalnya selain meyakini Nabi Muhammad saw dan Yesus Kristus namun juga meyakini figur-fitur dalam agama timur seperti Buddha, Kwan Im, dan lainnya. Hal yang serupa dijumpai dalam aliran Gerakan Fajar Nusantara (Gafatar) yang berupaya menggabungkan ajaran-ajaran agama di tanah air, Islam, Kristen, Budha, dsb. dan menyatukannya dalam nilai kenusantaraan Pancasila untuk menjawab problematika sosial seperti kelaparan dan sebagainya dengan kerja sosial.

Fitur ‘gado-gado’ agama ini sedikit banyak mengarahkan kita pada aliran Gerakan Zaman Baru (GZB) yang didirikan Alice Bailey sekitar tahun 1918-1939M pada masa antara Perang Dunia I dan II. Sifat spekulatif dalam mengeksplorasi nilai-nilai ajaran dari agama-agama yang berbeda dan keenganan mengikat pada satu ajaran tertentu membuat aliran-aliran yang muncul ini berbagi sifat yang sama dalam hal anti-otoritas dan kebakuan ajaran. Aliran-aliran yang muncul ini juga berbagi sifat yang sama dalam sebab kemunculannya yaitu dorongan ‘inspirasi’ alam gaib. Kemudahan mengenali kelemahan klaim aliran-aliran ini terletak pada fakta bahwa terdapat begitu banyak inkonsistensi internal dalam ajarannya. Akar dari terjerembabnya nabi-nabi palsu ini mungkin adalah kecintaan pada ibadah yang tidak dibarengi dengan kepahaman pada syariat, sebagaimana sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam: “Satu orang fakih itu lebih berat bagi syetan daripada seribu ahli ibadah.” ( HR Tirmidzi : 5/46, No : 2681 ).

 

Ady C. Effendy, MA

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *