Peradaban Turki dan Kemandirian Industri dan Teknologi  — Catatan Perjalanan Mahasiswa PPI-Qatar di Istanbul

1

 

 

 

 

Berbicara tentang peradaban, tentulah tidak bisa kita lupakan bagaimana megah dan gemilangnya peradaban Islam zaman pertengahan yang telah berhasil menciptakan dunia ‘modern’, bahkan sebelum intelektual Barat menelurkan konsep tersebut. Eropa di masa itu adalah seakan kumpulan kampong-kampung terbelakang dimana penduduknya masih berkubang dalam praktek perdukunan, sihir dan takhayul. Sementara daratan dan perkotaan dibawah Khilafah Islamiyah bergemerlap dengan ilmu pengetahuan dan ‘cikal-bakal’ teknologi masa depan. Teknologi ini diantaranya dalam bidang produksi makanan, medis, persenjataan militer, transportasi, dan lain sebagainya.

 

3

Begitu gemerlapnya negeri Muslim dibawah Khilafah Islamiyah kala itu, sampai-sampai membuat kebencian dan kedengkian Eropa Kristen zaman itu memuncak. Namun alih-alih menjelekkan peradaban Islam masa itu sebagaimana yang terjadi pada hari ini, mereka justru mengungkapkan keunggulan Muslim dalam berbagai kesempatan. Mereka selalu mengungkapkan betapa berbahayanya Islam karena kaum Muslim sangatlah kaya, peradaban mereka sangatlah maju, mereka sangatlah berhasil, dan agama mereka sangatlah mudah dijalankan sehingga memikat pemuda-pemuda dan terlebih lagi gadis-gadis Eropa untuk memeluk Islam..!!! Bandingkanlah hal ini dengan berbagai stereotype buruk tentang Islam dan kaum Muslim masa kini yang dipublikasi habis-habisan oleh media Barat dan turunannya.

 

Diakui atau tidak, bisa jadi umat Islam saat ini memberi jalan bagi stigmatisasi buruk dan negatif tentang Islam dan diri mereka sendiri. Mereka lebih senang menjadi konsumen produk-produk Barat bermerek, dari makanan, tontonan, komputer, handphone, permainan, hiburan, mode, peralatan, aksesoris, gadget dan segala hal bermerek yang dapat dibayangkan benak kita. Taraf konsumsinya pun bukan lagi dalam ukuran kebutuhan melainkan gaya hidup, mode, dan untuk ‘mejeng’ di hadapan saudara/i nya sesama muslim. Kalau demikian tentulah tidak mungkin membangun sebuah negara yang maju dan berpengaruh karena penduduknya tidak melewati taraf konsumen atau pemakai belaka bukan produsen apalagi inventor dan innovator.

7

Akan tetapi, kabar baik setidaknya bahwa hal diatas tidak dapat digeneralisir ke seluruh umat islam. Muslim di Turki misalnya sudah mulai mengembangkan industri dan teknologinya untuk memproduksi berbagai barang-barang konsumen. Mulai dari elevator/ lift, mesin cuci dan pengering, tabung pemadam api, hingga sensor toilet yang dapat memutar plastik penutup dudukan WC sudah diproduksi dan dipakai didalam negeri sendiri. Muslim Turki pun terlihat sangat tekun dan komitmen melaksanakan pekerjaannya sehari-hari apapun itu. Hal ini tentu tidak terlepas dari kebijakan ekonomi dan pembangunan pemimpin Turki saat ini Erdogan yang bervisi islami dan pembangunan.

Tidaklah heran bahwa disaat negara-negara Uni Eropa mulai dari Yunani, Italia, Spanyol, Inggris, Perancis dan lainnya ‘rontok’ satu demi satu perekonomiannya, Turki masih tetap tegar ditengah momok kehancuran ekonomi Eropa Barat. Karena itulah, Turki tampaknya tidak lagi bernafsu menjadi anggota barisan Uni Eropa ini melihat kenyataan bahwa negara pimpinan Erdogan ini lebih kokoh dibanding para ‘Goliath-Goliath’ Eropa Barat.

8

Belajar dari pengalaman Eropa masa lalu, Eropa pun tidak bangkit sampai mereka mulai merevitalisasi ilmu pengetahuan dan memproduksi sendiri benda-benda peradaban. Kalau sebelumnya mereka adalah konsumen penggemar berbagai produk sabun mandi, surat kabar, jus buah-buahan, kopi, gelas, keramik, alat musik gitar yang semuanya diproduksi oleh dunia Muslim abad pertengahan, setelah upaya keras untuk menyekolahkan anak-anak Eropa di kota-kota pusat peradaban yang terletak di dunia Muslim, Eropa berhasil melakukan penemuan-penemuan dan inovasi-inovasi berdasarkan produk gemilang peradaban Islam dan bangkit dari keterbelakangannya.

Jikalau demikian keberhasilan Eropa, sebaliknya Umat Islam yang unggul terlebih dahulu terlena. Penambahan jumlah tidak diikuti dengan penambahan kualitas. Mereka terlena dengan banyaknya jumlah dan mulai berubah menjadi buih-buih yang mudah dihempaskan angin sekalipun.

Turki, dibawah Erdogan, setidaknya sudah memulai revitalisasi dan kebangkitan kembali, Indonesia tentunya tidak boleh berpuas diri sebagai konsumen abadi. Teknologi pesawat terbang helicopter mantan presiden Habibi yang dahulu membanggakan namun akhirnya sirna berganti dengan konsumsi pesawat heli buatan luar negeri bukanlah kemajuan melaikan kemunduran bagi ‘peradaban’ Indonesia. Semoga hal ini tidak terulang kembali di masa mendatang. Gelıştır Indonesia….!!!

 

***

ACE, Istanbul, 6 Agustus, 2014 Pkl: 11:30pm.

One thought on “Peradaban Turki dan Kemandirian Industri dan Teknologi  — Catatan Perjalanan Mahasiswa PPI-Qatar di Istanbul

  1. Todd Haley and Scott Piolli have given us our hope… you’re correct, Craig. &#0#00;…&28230;‮…………………
. The Chiefs control their destiny, which is the way it should be. … … … Win over the 2nd place SD and we

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *