Perbincangan Syekh Salman Audah dengan Syaikh Ibn Utsaimin

Alih bahasa: Abu Ali al Afandi

Perbincangan ini hendak saya (Syekh Salman Audah) share bersama kalian, yang juga telah saya publikasikan di surat kabar al Muslimun nomor (437). Perbincangan ini dilakukan bersama dengan al Syekh Muhammad bin Sholih al Utsaimin – rahimahullah- , dan saya hanya menyampaikan bagian-bagian terpenting dari pertemuan ini karena memiliki manfaat yang besar serta berisi jawaban mengenai beberapa persoalan yang telah saya baca dan ajarkan ke beberapa ikhwah.

Hukum Tergesa-gesa mengkafirkan, memfasikkan, dan membidahkan

Pertanyaan:

Bagaimana menurut pandangan Syekh tentang anak-anak muda atau orang-orang yang tergesa-gesa mengkafirkan, memfasikkan, dan membidahkan?

Jawaban:

Itu haram dan tidaklah diperbolehkan, sebagaimana diharamkan bagi kita untuk tergesa-gesa menghalalkan (tahlil) dan mengharamkan (tahrim), demikian pula diharamkan bagi kita untuk tergesa-gesa mengkafirkan, memfasikkan, dan membidahkan. Hati-hatilah seorang muslim dari mengatakan atas Allah sesuatu yang tidak diketahuinya, sesungguhnya Allah swt. telah mengharamkan hal itu, Allah swt. Berfirman: “Katakanlah: “Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak atau pun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar, (mengharamkan) mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah tidak menurunkan hujah untuk itu dan (mengharamkan) mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui”. (Q.S. Al A’raf: 33)

Hukum mengkafirkan (takfir) terhadap seseorang berkaitan dengan dua buah perkara

  1. Pertama, mengetahui dalil-dalil secara jelas yang menunjukkan bahwa sesuatu yang kita kafirkan itu benar-benar kufur. Dan banyak sekali hal-hal yang disangka manusia sebagai sesuatu yang kufur ternyata sesungguhnya bukanlah sesuatu yang kufur. Maka kita harus mengetahui secara seksama dalil-dalil yang menunjukkan bahwa perbuatan ini atau perkataan ini kufur.
  2. Kedua, kita haruslah mengetahui secara seksama bahwa orang yang mengatakan perkataan itu, atau melakukan perbuatan itu, tidak dapat dimaafkan (diberi uzur) ) atas perkataan atau perbuatannya itu. Hal ini dikarenakan bahwa terkadang seorang insan mengatakan perkataan kufur tetapi dimaafkan (diberi uzur) dikarenakan kebodohannya/ ketidaktahuannya atau perkataan itu masih menerima takwil atau timbul karena sesuatu keadaan yang terjadi padanya seperti kemarahan yang hebat atau kesenangan berlebihan atau semacamnya. Oleh karenanya, perkataan yang dikatakan oleh orang tersebut tidak bisa dihukumi sebagai kekafiran.

Nasehat bagi orang-orang yang mencari-cari kesalahan dan kekurangan ulama

Pertanyaan:

Bagaimana menurut syekh tentang orang-orang yang mencari-cari kesalahan dan keburukan ulama, kemudian menampakkannya dan sebaliknya tidak menunjukkan kebaikan-kebaikan mereka, dengan dalih bahwa kesalahan-kesalahan ini termasuk dalam bab Aqidah?

Jawaban:

Itu adalah suatu kesalahan. Masalah Aqidah sebagaimana masalah lainnya dimana seorang ulama bisa saja mengalami kesalahan. Apakah orang-orang itu tidak mengetahui bahwa para ulama telah berbeda pendapat mengenai keabadian neraka, apakah neraka itu untuk selamanya atau tidak selamanya? Para ulama salaf dan juga ulama kholaf terkadang berbeda pandangan mengenai suatu hal dalam perkara akidah maka apakah boleh kita menunjukkan keburukan mereka?

Begitupula tentang masalah Shiroth (jembatan) yang diletakkan diatas neraka: Para ulama berbeda pandangan apakah jembatan itu seperti jalan-jalan lainnya, atau apakah jembatan itu lebih tipis dari sehelai rambut dan lebih tajam dari pedang?

Para ulama juga berbeda pandangan mengenai apa yang ditimbang di Hari Kiamat: Apakah amal perbuatan, pelaku perbuatan itu atau lembaran-lembaran amal perbuatan itu?

Para ulama – rahimahullah – juga berbeda pandangan mengenai Apakah Rasulullah saw. melihat Allah swt. atau tidak melihat-Nya?

Para ulama – rahimahullah – juga berbeda pendapat mengenai apakah ruh dikembalikan kedalam badan sehingga adzab kubur (siksaan) akan ditimpakan kepada badan dan ruh ataukah hanya ditimpakan kepada ruh saja didalam kubur setelah seseorang dikuburkan?

Semua persoalan ini masuk dalam bab Aqidah, dan para ulama berbeda pendapat mengenainya, maka apakah boleh kita menampakkan keburukan-keburukan mereka dan menolak mereka serta merta?

Kesimpulan: Apabila para ulama berbeda pendapat pada  cabang-cabang dalam Bab Akidah maka tentulah lebih banyak lagi perbedaan para ulama dalam masalah-masalah fikih. Oleh karena itu, seorang muslim yang baik tidak akan sembarangan membidahkan, memfasikkan, dan mengkafirkan saudaranya hanya karena perbedaan dalam cabang-cabang akidah terlebih lagi perbedaan dalam masalah-masalah fikih. Terakhir, ghiroh dan semangat keislaman haruslah dibarengi dengan selalu menuntut ilmu, menjaga akhlak/ tata krama, dan husnudzon. Tanpa semua ini, ghiroh yang meledak-ledak bisa menjadi bumerang yang merusak dan menghancurkan ketimbang memberikan manfaat. (AA)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *