Tokoh-Tokoh Gerakan Zaman Baru – (seri 11)

Sementara itu, rekan-rekan Bailey, seperti Krishnamurti, Steiner dan Fortune memiliki kecenderungan yang berbeda-beda pula dalam upaya mereka mengembangkan Gerakan Zaman Baru. Rekannya yang pertama, Krishnamurti mengajarkan keterbebasan dirinya dari segala ikatan tradisi, menyerukan pesan anti-kekerasan, menolak sarana-sarana sosial politik guna mencapai kedamaian, sementara menyatakan bahwa hanya perubahan diri pribadi, pengembangan nilai-nilai kebaikan, cinta dan belas kasih yang akan dapat mewujudkan perdamaian tersebut. Krishnamurti membangun banyak sekolah di India, Inggris dan Amerika Serikat sebagai wujud perhatiannya yang besar pada pendidikan. Rekannya yang kedua, Steiner memiliki kecondongan lebih pada konsep holistik dalam mengembangkan pendidikan, yang menggabungkan aspek jasmani, rohani dan kecerdasan individu. Ia pun memiliki kedekatan ide dengan Bailey mengenai Yesus Kristus yang dipandangnya telah memperlihatkan kepada manusia cara menggapai tingkat ketuhanan. Untuk menyokong dan merealisasikan gagasannya tersebut, ia membangun sebuah Masyarakat Anthroposofis yang mempropagandakan bentuk ’klenik Kristen’ yang menurutnya dapat menjadi solusi guna meraih kembali kekuatan ketuhanan dalam diri manusia yang sebelumnya telah hilang. Rekan Bailey yang ketiga, Dion Fortune, yang memiliki kecenderungan kebatinan dan senang menggabungkan beragam klenik dan sihir dengan Tarot, Kabbalah dan Paganisme modern, hanya memandang Yesus Kristus sebagai salah satu dari para Guru Langit yang diklaim pernah dilihatnya. [1]

Namun, ideolog GZB yang paling berjasa merekonstruksi ideologi GZB hingga diikuti para pengikutnya sampai saat ini adalah ideolog generasi kedua, yakni Marilyn Ferguson yang menulis buku berjudul The Aquarian Conspiracy (1982). Buku ini sangatlah penting bagi GZB karena beberapa sebab. Pertama, buku ini merancang agenda-agenda yang utopis bagi kelompok GZB dimana Ferguson menyerukan sebuah ’perubahan paradigma’ yang dia yakini akan terjadi pada pikiran dan otak manusia, spiritualitas manusia, dan munculnya sebuah kultur baru. Ferguson juga menyerukan pentingnya transisi dalam spiritualitas, yakni dari spiritualitas yang bergantung pada tradisi, otoritas, kepercayaan dan ritual, kepada sebuah spiritualitas baru dan modern yang bersandar pada pengetahuan langsung, pengalaman, ’petualangan’ dan keutuhan pribadi manusia, sebuah spiritualitas yang akan menekankan pada meditasi, penyembuhan dan pengakuan akan sifat ketuhanan dalam diri manusia. [2]

Dari sini tampak jelas bahwa Ferguson tidak memperkenalkan hal baru dalam tulisannya tersebut dibandingkan dengan karya Bailey sebagai pendiri GZB, namun Ferguson sangatlah berjasa dalam mempopulerkan gerakan ini dimana ia mengoperasionalkan konsep-konsep yang dibangun oleh Bailey dan juga memperkenalkan kata ’konspirasi’ di belakang kata Aquarius yang bermakna ’bernafas bersama’, sebuah konsep operasi yang sekarang diikuti oleh para penganut GZB yang menyebar di berbagai organisasi dan institusi yang tidak berada di bawah satu atap, namun mereka semuanya bernafas bersama-sama secara simbiotis. Dalam ideologi Ferguson, GZB bukanlah sebuah agama baru melainkan sebuah jaringan terpadu yang tidak terpusat dan menyebar ke beragam aspek kehidupan.[3]

Penjabaran mengenai para tokoh-tokoh pendiri aliran atau komunitas GZB diatas telah memperlihatkan dengan jelas sebuah fenomena pendirian sebuah agama buatan manusia, sebuah agama yang dibuat dan dikembangkan oleh manusia akan memiliki kepercayaan yang berbeda-beda tergantung dengan kecenderungan atau latar belakang para pendirinya. Aliran GZB ini pun secara jelas memperlihatkan kepada kita bagaimana para tokoh gerakan mengarahkan tujuan organisasi ataupun praktek-prakteknya dan bahkan ideologi kepercayaannya.

Di Indonesia sendiri, gerakan ini tidak terlalu dikenal dari aspek ideologis-konseptual, namun lebih banyak menyebar melalui produk-produknya dan tokoh-tokohnya yang populer, baik tokoh-tokoh dari dalam negeri ataupun dari berbagai belahan dunia lainnya. Diantara mereka, tokoh-tokoh Gerakan Zaman Baru yang populer di Indonesia, banyak yang berprofesi sebagai ‘guru spiritual’ atau mentor dan trainer kesuksesan, penulis buku-buku motivasi dan lain sebagainya, diantaranya Sathya Sai Baba[4] dari India, Napoleon Hill, Rhonda Byrne, dan Anand Khrisna[5], Fritjof Capra, Danah Zohar, Stephen Covey, dan lainnya.

Para anggota dan pengikut GZB yang terlibat dan mengikuti gerakan ini berada pada tingkatan-tingkatan tertentu dari tingkatan pemula hingga tingkatan ideolog atau pemimpin. Beberapa diantara anggota GZB ada yang berada pada tingkatan kepemimpinan yang menggunakan konsep-konsep mereka dan meyakininya, ada pula yang hanya mengadopsi pola praktek mereka guna mendapatkan keuntungan materi ataupun popularitas atau ada pula yang hanya menggunakan unsur-unsur GZB yang dipandang memiliki manfaat tertentu tanpa mereka benar-benar masuk didalam gerakan ini, setidaknya dalam dugaan kita, misalnya seorang trainer muslim yang menawarkan training kecerdasan emosi dan spiritual dengan mengadopsi musik-musik mereka yang menghanyutkan perasaan bahkan seakan menghipnotis, atau seorang motivator muslim yang mempromosikan ziarah ke negeri penganut Budha, yakni negeri Tibet, persisnya kota Lhasa guna menyelami makna-makna spiritual kota suci agama Buddha ini. Suatu hal yang sangat bertolak belakang dengan akidahnya, namun demikianlah kecenderungan dari pengikut GZB ataupun simpatisan bagi spiritualitas GZB tersebut.

Tentu berbagai tokoh-tokoh ini akan menolak apabila dikait-kaitkan dengan gerakan Zaman Baru bentukan Alice Bailey ini, namun sesungguhnya bila kita melihat praktek-praktek yang disebarkan oleh tokoh-tokoh ini, maka kita akan dapat melihat garis persinggungan antara ajaran-ajaran atau setidaknya praktek-praktek yang dijalankan mereka dengan ajaran atau praktek didalam Gerakan Zaman Baru. Dan telah kita ketahui pula dari pembahasan sebelumnya bahwa sesungguhnya Gerakan Zaman Baru adalah sebuah gerakan atau jaringan super-longgar dari orang-orang dari berbagai latar belakang dan profesi dengan beragam kegiatan, namun mereka semua berbagi kepercayaan-kepercayaan tertentu seperti monisme, pantheisme, dan lain sebagainya, yang menjalin kesemuanya dalam satu ikatan longgar Gerakan Zaman Baru.


[1] Idem, hal. 7.

[2] Idem, hal. 9.

[3] Idem, hal. 9.

[4] Klaim ketuhanan yang dinyatakan Sai Baba berakhir sudah setelah kematian menghampirinya pada pertengahan tahun 2011. Sebuah klaim yang hanya dilakukan oleh orang-orang yang tertipu oleh setan. Belakangan terdengar pula kabar pelecehan seksual yang dilakukan oleh si guru tidak hanya terhadap kaum hawa bahkan kaum adam pun menjadi objek kebuasan si guru.

[5] Sang guru spiritual ini sendiri telah dibui setelah diajukan ke meja hijau atas tuduhan pelecehan seksual oleh murid-muridnya. Berakhir sudah kebohongan sang guru.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *