Ustadzah Yoyoh: Dan Impian Kami tentang Gaza

Rabu, 25 Mei 2011

Oleh: Sinta Yudisia  

PERTAMA kali bertatap muka, adalah ketika aku dan suami masih tinggal di Medan, sekitar tahun 1995. Ustadzah datang atas undangan sebuah acara, dengan segala kesederhanaannya beliau bercerita tentang da’wah.

Aku sempat bertanya, bagaimana anak-anak jika ditinggalkan untuk berda’wah? Bukankah sebagai ibu kita juga harus mengawasi anak-anak?

Aku masih ingat betul nasehat beliau, kurang lebih demikian:

“…..kalau kita titipkan pada Allah SWT, insyaAllah akan dijaga.”

Dan apa yang menjadi keyakinan beliau, terbukti.

Berapa banyak anak yang ditunggui ibunya, tapi tidak tumbuh dalam keimanan?
Beliau meninggalkan anak-anaknya untuk urusan da’wah dan insyaAllah, anak-anak beliau tumbuh dengan baik. Tentu, pendapat ini bukannya menghimbau semua muslimah keluar rumah, tetapi ketika panggilan da’wah adalah keharusan dan tidak ada orang lain, maka kemana lagi menitipkan keluarga dan anak-anak jika bukan kepada Yang Maha Penjaga?

Pesan beliau lama sekali mengendap dalam benak, selalu kuingat (meski belum tentu kujalankan…). Bertahun-tahun aku hanya mendengar berita tentangnya, merasa kagum akan sepak terjangnya dan selalu yang membuat kagum adalah kemampuannya menghafal Quran, menjaga hafalan, kesabaran dan daya juang yang tinggi. Yoyoh Yusroh dan daiyah, seolah sosok cermin. Ia bukan hanya ibu, tapi juga daiyah. Ia bukan sekedar politisi tapi juga daiyah. Ia bukan cuma orator tapi juga daiyah.

Terakhir kali, setelah pertemuan di Medan, kami bertemu lewat telepon. Aku tahu ustadzah akan berangkat dengan rombongan Viva Palestina, kuminta nomer HP beliau pada ketua FLP Pusat, mbak Intan Savitri.

Beliau, bukan orang yang susah dikontak. SMS ku selalu dibalas. Teleponku juga di angkat.

Dan..ustadzah ini mendengarkanku seolah ia punya banyak waktu untukku. “Padahal, tidakkah perempuan ini sibuk sekali?” pikirku.

Kuceritakan bahwa akhir Juli 2010, bersama BSMI , kami tinggal selama 5 hari di Khan Younis dan berkesempatan untuk mengunjungi Gaza City, Jabaliyah dan beberapa wilayah. Aku sempat berpikir : sombong sekali aku! Sok mengajari ustadzah yang pasti punya pengalaman sangat banyak. Tapi aku ingin memastikan beliau menemui orang-orang yang dulu juga menemuiku, dan meminta bantuan rakyat Indonesia.

Kutelepon ustadzah Yoyoh.

Beliau mengangkat dengan ramah. Aku meminta maaf sudah mengganggu waktunya. Aku lupa-lupa ingat seluruh isi pembicaraan kami, tapi sungguh…seolah aku tak berhadapan dengan pejabat penting yang waktunya padat oleh sekian banyak agenda.

“Ustadzah, apa mengenal Ibu Rehab Shubair dan Ibu Ittimad et Tharshawi?”

“Tidak. Saya akan bertemu Ibu Fathimah…..?, beliau anggota dewan perempuan di Hamas.”

Aku lupa lagi apa isi pembicaraan kami karena berikutnya…..aku kebanyakan SMS. Dan beliau sabar menjawab SMSku. Subhanallah.

Kuberikan nomer kontak masing-masing orang yang pernah kutemui di Gaza.
Ibu Rehab Shubair dan Ibu Ittimad Ettharshawi dari Kementrian Wanita.

Mr. Dr. Osama Alisawi, Kementrian Budaya.
Mr. Eng. Mahmoud el Madhoun, Kementrian LN.
Ustadzah mengucapkan terimakasih.

Di akhir kesempatan, aku sempat melemparkan sedikit joke.

”Ustadzah….kalau nanti tiba di Gaza, dan berkesempatan jalan-jalan…cobalah berkunjung ke Asdaa Land. Tempat taman Zaitun, Tiin, pusat perfilman juga.”
Ia menjawa insyaAllah.

Beliau juga bercerita bahwa misinya ke Gaza membawa container besar yang berisi alat-alat tulis, mainan dan segala yang dibutuhkan warga Gaza.

Aku sibuk oleh urusanku sendiri hingga lupa mengontak beliau kembali, bagaimana kisah perjalanan beliau ke Gaza. Hingga berita duka cita tiba, dan aku merasa suatu hutang besar belum tertunaikan. Kami belum bercerita lebih lanjut tentang bagaimana muslimah Gaza mampu mengatasi semua kendala hingga mereka survive, mampu membentuk peradaban dan melahirkan generasi yang paling diimpikan.

Perbedaan dan persamaan kami

Suatu saat beliau berkunjung ke Surabaya, mengisi acara. Kalau tidak salah acara menyambut Ramadhan di Royal Plaza (tolong dikoreksi teman-teman Surabaya..). Pesan beliau kucetak dengan huruf dan bullet yang indah, kutempel di pintu kamar.

Bagaimana cara membaca Quran?

Jumat malam : al Baqarah (2) – al Maidah (5)
Sabtu malam : al An’am (6) – Huud (11)
Minggu malam : Yusuf (12) – Maryam (19)
Senin malam : Thoha (20) – Al Qashaash (28)
Selasa malam : Al Ankabuut (29) – Az Zumaar (39)
Rabu malam : Al Mu’min (40) – ar Rahmaan (55)
Kamis malam : Al Hadidd (57) – an Naas (114)

Yah…meski kutempel, aku belum bisa seperti beliau yang tilawah 3 juz sehari.
Sebagaimana beliau, aku ingin dekat dengan Quran tapi belum bisa.
Sebagaimana ustadzah, aku ingin menghafal Quran tapi baru sedikit (menambah hafalan atau mengganti hafalan? Menghafal juz 28, juz 30 hilang….ah, maksiat masih menjadi teman).

Sebagaimana ustadzah Yoyoh, aku mencintai Palestina tapi belum mampu berbuat banyak.

Lagi-lagi sebagaimana beliau, aku ingin punya anak banyak tapi baru 4 anakku “Ke mana tiang kesabaranku?”

Sebagaimana dirinya, aku ingin selalu memenuhi panggilan da’wah, aku juga ingin sekali se-sholihah beliau dalam berkhidmah pada suami tapi sepertinya aku masih harus banyak belajar memperbaiki diri.

……ah, ustadzah

Ingin aku suatu saat bersamamu, melangkah bersisian memasuki Gaza.

Sholat di masjid Khulafaur Rasyidin yang hancur..

Memberi makan al Qossam yang seharian berpuasa..

Membantu muslimah yang bisu karena trauma untuk kembali bicara..

Ingin aku dan engkau kembali lagi memasuki Gaza,

Bertemu saudara-saudara dengan wajah seteduh langit,

Mata bagai gemintang,

Senyum bak rembulan meski keringat mengucur deras dari pelipis akibat menahan lapar karena berpuasa.

Aku ingin bersamamu memasuki Gaza,

Memetik bunga muslimah, dan kita nikahkan dengan salah satu anak lelaki kita,
Atau bisakah kita melamar seorang ikhwan penghafal Quran,
Untuk penjaga anak perempuan kita dan saudari kita?

Aku ingin bersamamu ustadzah,
Menikmati matahari tenggelam di pantai Aizbah,
Melihat anak-anak Gaza berjualan buah Tiin, ikan, jagung bakar,
Atau mengikuti summer camp dan melihat bagaimana dalam 3 bulan anak-anak mampu menghafal Quran.

Aku ingin duduk berhadapan denganmu..
Di sebuah apartemen sederhana, milik saudari kita di Gaza City
Menikmati secangkir shai, jus mangga dan bilkari,
Lalu kita bercita-cita memiliki sekolah perempuan,
Agar muslimah Indonesia sama tangguhnya dengan muslimah Gaza.

Aku ingin punya waktu khusus denganmu,
Hingga kau mentransfer ilmu, harapan, impianmu tentang negeri ini
Berkaca pada Gaza yang mampu tegak di atas puing namun tetap punya martabat dan harga diri.

Bunda, ustadzah kami….
Kapan kita ke Gaza lagi?

Surabaya, Selasa 24 Mei 2011

Sinta Yudisia adalah penulis “The Road to The Empire”, Forum Lingkar Pena (FLP), Jawa Timur


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *